Pengantar Antu Bangkit
Karya: Yulchaidir
Sayup sayup angin menghembus diiring gerimis malam saat purnama mulai bertahta.
Lolongan anjing anjing liar menambah suasana mencekam malam itu.
Dengan baju yang telah basah didera sang gerimis, Mang Murek mempercepat langkah kakinya memasuki area pemakaman.
Pemakaman itu terletak di persimpangan tiga membatasi wilayah dua perkampungan.
Ia meratap lewat kata kata yang biasa mang Murek lakukan. Lalu Mang Murek berbalik meninggalkan pemakaman dengan rasa lega telah menyelesaikankan tugasnya.
Beberapa hari ini setiap malam menjelang saat azan Maghrib berkumandang, Mang Murek selalu di datangi sesosok pocong dengan kain kafan berlumur tanah dan darah.
Dengan menggunakan jari kelingking yang dikaitkan pada kain kafan, Mang Murek menggandeng sosok pocong yang sudah bergentanyangan semenjak seminggu yang lalu hingga pada waktu yang tepat.
Di malam Jumat Mang Murek mengantarkan pocong ke pemakaman.
Ia memang sudah terbiasa mengantarkan sosok pocong hingga kampung tersebut menjadi tenang kembali.
Dikisahkan saat penulis masih bermukim pada satu desa di wilayah di salah satu kecamatan di Bangka Selatan, jarak rumah penulis dengan Mang Murek tidak lebih dari 100 meter.
