Oleh: Bagus — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia kerja.

Banyak pekerjaan yang dulunya hanya bisa dilakukan oleh manusia kini mulai diambil alih oleh mesin cerdas. Hal ini memunculkan kekhawatiran: apakah AI akan sepenuhnya menggantikan manusia di dunia kerja?

Ataukah justru membuka peluang baru bagi kolaborasi antara keduanya? Pertanyaan ini menjadi penting untuk dibahas, mengingat dampaknya terhadap masa depan tenaga kerja global.

Kecerdasan buatan telah terbukti mampu menyelesaikan tugas-tugas rutin dengan lebih cepat, akurat, dan efisien dibandingkan dengan manusia.

Di sektor manufaktur, misalnya, robot telah menggantikan peran pekerja dalam merakit produk di pabrik. Begitu pula dalam layanan pelanggan, chatbot kini dapat melayani pertanyaan dasar tanpa campur tangan manusia.

Baca Juga  Sumpah Pemuda: Menggali Kembali Nilai Persatuan di Tengah Polarisasi

Namun, meskipun AI unggul dalam kecepatan dan ketelitian, ia masih memiliki keterbatasan dalam hal empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks yang membutuhkan intuisi serta pemahaman konteks sosial—kemampuan yang sejauh ini hanya dimiliki oleh manusia.

Meskipun AI membawa efisiensi, kemajuan ini juga memicu kekhawatiran sosial yang signifikan. Salah satu isu utama adalah potensi pengangguran massal akibat otomatisasi.

Menurut laporan World Economic Forum tahun 2023, diperkirakan sekitar 83 juta pekerjaan akan hilang secara global hingga tahun 2027 karena otomatisasi, meskipun juga disebutkan bahwa 69 juta pekerjaan baru bisa tercipta.