Oleh: Prajihan Nisrina – Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung

Perkembangan teknologi yang masif dan pesat dalam era digital telah menciptakan perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Generasi Z atau yang sering disebut Gen Z, yang merupakan generasi digital native, tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, terbuka, dan sangat terhubung secara global.

Mereka memiliki karakteristik yang unik dan kompleks, seperti terbiasa dengan akses informasi instan, preferensi terhadap pendekatan visual dan interaktif, serta kecenderungan cepat bosan dengan metode pembelajaran yang konvensional.

Dalam konteks ini, sistem asesmen PAI yang selama ini bersifat tekstual dan mengandalkan hafalan menjadi kurang relevan, karena tidak mampu menjawab kebutuhan dan gaya belajar khas Gen Z.

Baca Juga  Ketika Gedung Kantor Mulai Bercerita: Ornamen Kecil, Identitas Besar untuk Babel

Padahal, asesmen seharusnya menjadi alat untuk mengukur sejauh mana nilai-nilai Islam dipahami dan diamalkan secara holistik oleh peserta didik.

Ketidaksesuaian antara metode asesmen yang digunakan dengan karakter Gen Z berpotensi menurunkan keterlibatan siswa serta efektivitas pembelajaran PAI yang sejatinya berperan penting dalam pembentukan karakter dan nilai spiritual.

  • Karakteristik Generasi Z

Generasi Z, yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012, merupakan kelompok yang tumbuh dan berkembang di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital. Mereka dikenal memiliki karakteristik yang menonjol seperti melek teknologi, lebih visual, mampu berpikir kritis, multitasking, dan memiliki kecenderungan menyukai segala sesuatu yang bersifat instan serta praktis.

Gaya hidup mereka yang sangat terhubung dengan perangkat digital menjadikan teknologi bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan bagian dari keseharian mereka.

Baca Juga  Guru oh Guru, Nasibmu Kini

Hal ini membentuk pola pikir yang cepat, adaptif, dan cenderung menuntut akses terhadap informasi dan pengalaman belajar yang langsung, ringkas, dan mudah dipahami.

Dalam konteks pendidikan, karakteristik tersebut membuat Gen Z menunjukkan preferensi yang kuat terhadap model pembelajaran yang interaktif, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan nyata.

Mereka lebih responsif terhadap media pembelajaran berbasis digital, seperti video, animasi, gamifikasi, serta platform pembelajaran daring yang memungkinkan keterlibatan aktif dan fleksibilitas waktu.

Selain itu, mereka cenderung lebih terbuka terhadap diskusi, kolaborasi kelompok, serta memiliki keinginan untuk dipahami secara personal oleh guru atau fasilitator pembelajaran.

Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang bersifat partisipatif dan berorientasi pada pengalaman menjadi sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan bagi generasi ini.

  • Kelemahan Asesmen PAI Konvensional
Baca Juga  Guru, Digugu lan Ditiru

Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bersifat konvensional umumnya masih berfokus pada aspek kognitif dan hafalan semata. Ujian yang digunakan sering kali berbentuk pilihan ganda atau uraian yang mengukur seberapa banyak siswa mampu mengingat materi pelajaran.