Oleh: Sobirin Malian- Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan 

Di Indonesia akhir akhir ini guru mengalami nasib yang sangat tidak baik. Di sebuah sekolah tingkat dasar ada 4 siswa yang mengecat rambut dengan warna merah diperingatkan oleh gurunya, “sebaiknya kalau sekolah_masih SD tidak perlu mengecat rambut…” kurang pantas, kata sang Ibu Guru. Tiga siswa menurut dan menghilangkan cat pada rambutnya, namun ada satu siswa menolak keras menuruti kata-kata ibu gurunya. Bahkan yang lebih menyakitkan, si siswa mendamprat ibu gurunya dengan kata-kata tak senonoh yang membuat ibu guru spontan menutup mulut siswanya itu. Apa lacur yang terjadi berikutnya ? Sang guru dilaporkan ke pihak kepolisian; dan dihukum wajib lapor, padahal jarak antara rumah dan kantor Polsek jauhnya 20 KM lebih.

Guru disalahkan, padahal konteksnya dia mendidik siswanya. Guru mendidik dengan sepenuh hati (wholeheartedly) bukan dengan keterpaksaan (coercion) malah dianggap “pesakitan” bak penjahat…sungguh ironis nasib guru. Mengapa pihak kepolisian, atasan guru di sekolah atau pemerintah setempat tidak menelaah kasus ini dengan jernih dan melihat konteks “menghukum” siswa oleh guru adalah kewajibannya.

Baca Juga  Mottainai Nusantara: Bangun Kembali Harmoni Alam dari Filosofi Jepang dan Warisan Lokal Kita

Kasus lain kurang lebih sama, dialami guru di Tangerang. Guru dipersalahkan karena siswa “membolos” pada jam pelajaran. Sang guru mengingatkan si siswa agar lebih disiplin demi masa depannya. Tak di sangka, si siswa malah marah-marah, “mau bolos, mau main, mau apa pun …itu adalah haknya. Lalu kata-kata serapah dimuntahkan si siswa. ” Atas perkataan siswa yang tidak sopan tersebut, sang guru sangat prihatin. Mengapa siswa itu demikian berani dan tega mengeluarkan kata-kata kotor…layaknya orang tidak sekolah. Ya…begitulah guru seolah tak ada harganya, tidak dihormati saat ini.

Belajar Bagaimana Guru di China dan Jepang Diperlakukan
Guru di Jepang dan China sama-sama mendapat penghormatan tinggi dari masyarakat, meski menghadapi tantangan kerja yang berbeda. Di kedua negara, profesi guru dianggap prestisius dengan dukungan gaji dan status sosial yang baik, tetapi Jepang lebih menonjolkan beban kerja berlebih sementara China fokus pada regulasi ketat.

Baca Juga  Prof Fatimah DIkukuhkan Jadi Guru Besar Ilmu Manajemen UMP

Di Jepang
Guru disebut “sensei” dan memiliki status sosial tinggi, dihormati karena teladan moral serta tanggung jawab besar dalam pendidikan karakter murid. Mereka mendapat gaji lebih baik daripada pegawai negeri biasa, tapi sering overwork hingga 50-60 jam seminggu, menyebabkan karoshi (beban kerja berlebihan yang dapat menyebabkan kematian), akibatnya guru resign massal, dan sekolah banyak kekurangan guru. Hubungan dekat dengan murid dan orang tua kuat, dengan aturan ketat seperti larangan HP saat mengajar untuk jaga profesionalitas.

Sangat jarang kalau tidak bisa dikatakan tidak ada, karena guru mendisiplikan siswa lalu berujung pada laporan kepada kepolisian (pihak berwajib). Itulah gambaran bagaimana guru demikian dihargai, dihormati di Jepang.

Di Siswa tingkat SD, di Jepang
Seperti diketahui , siswa SD di Jepang dikenal sangat disiplin. Siswa dilatih disiplin melalui beberapa cara, antara lain:
1. Rutinitas harian: Siswa di Jepang memiliki rutinitas harian yang ketat, termasuk waktu masuk, waktu makan, waktu belajar, dan waktu pulang.
2. Aturan sekolah: Sekolah memiliki aturan yang jelas dan ketat, seperti tidak boleh terlambat, tidak boleh memakai perhiasan, dan tidak boleh makan di kelas.
3. Penghormatan: Siswa diajarkan untuk menghormati guru dan orang lain dengan cara membungkuk dan mengucapkan “konnichiwa” (selamat siang) atau “arigatou” (terima kasih).
4. Kebersihan: Siswa diajarkan untuk menjaga kebersihan kelas dan sekolah, termasuk membersihkan kelas dan membuang sampah pada tempatnya.
5. Kerja sama: Siswa diajarkan untuk bekerja sama dengan teman-teman dalam
6. Penghargaan dan sanksi: Siswa yang berprestasi akan diberi penghargaan, sedangkan siswa yang melanggar aturan akan diberi sanksi, seperti membersihkan kelas atau menulis refleksi.
7. Pendidikan karakter: Siswa diajarkan tentang nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab melalui pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

Baca Juga  Kearifan Lokal dan Budaya Organisasi Pemerintah