Guru oh Guru, Nasibmu Kini
Contoh kegiatan yang dilakukan di SD di Jepang untuk melatih disiplin siswa, antara lain:
Siswa membersihkan kelas setiap hari setelah pelajaran selesai. Tidak ada office boy atau tenaga kebersihan di sekolah-sekolah Jepang karena itu bagian dari kurikulum pendidikan, menjaga kebersihan.
Pada masa istirahat siang, siswa makan siang bersama-sama di kelas, dengan aturan tidak boleh berbicara atau bermain.
– Upacara bendera: Siswa mengikuti upacara bendera setiap pagi, dengan aturan harus berdiri tegak dan menghormati bendera. Guru seringkali menukar “lauk” bagi anak orang mampu dengan “lauk” anak kurang mampu agar ada saling solidaritas dan agar memiliki rasa sosial.
Siswa dapat memilih kegiatan ekstrakurikuler, seperti klub olahraga atau klub musik, yang membantu mereka mengembangkan disiplin dan kerja sama. Dari sini bakat oralahraga kadang ditemukan untuk kemudian diarahkan sampai dia mencapai prestasi ketika dewasa.
Dengan cara-cara tersebut, siswa di SD di Jepang dilatih untuk menjadi disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki etika yang baik.
Di China
Di China, guru mirip sama dengan di Jepang sangat dihormati dan dihargai. Guru punya status sosial tertinggi di dunia menurut survei global, setara dokter dengan gaji rata-rata Rp180 juta/tahun plus tunjangan rumah dan bonus. Pemerintah prioritaskan kesejahteraan agar gaji setara PNS, tapi ada tekanan mental dari beban administratif dan evaluasi rumit. Pelanggaran serius seperti kekerasan seksual dihukum berat dengan larangan mengajar seumur hidup, menunjukkan komitmen bagaimana melindungi anak.
Kebijakan disiplin guru di China menekankan nol toleransi terhadap malapraktik, pelanggaran regulasi, dan kekerasan terhadap siswa, dengan sanksi ketat hingga konsekuensi hukum. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan menerapkan pedoman untuk lindungi hak guru sambil tegas hukum pelanggaran, termasuk larangan hukuman fisik/verbal bagi siswa.
Pedoman Utama
Pedoman terbaru dari Komite Sentral Partai dan Dewan Negara (2024) menargetkan profesi guru jadi yang paling dihormati hingga 2035, dengan penegakan disiplin ketat bagi pelanggar. Guru boleh disiplinkan siswa secara aktif (seperti timeout atau permintaan maaf), tapi dilarang pukul, isolasi paksa, atau hinaan verbal yang rusak mental siswa. Orang tua harus dilibatkan untuk pelanggaran serius, dengan sistem tiga tingkat: ringan (maaf lisan), sedang (tugas tambahan), berat (skorsing hingga 45 hari).
Sanksi bagi Guru
Guru harus bisa ditiru dan digugu berlaku juga di China, oleh karena itu guru harus menjaga diri “memberikan” pengabdian terbaik untuk para muridnya. Pelanggaran seperti kekerasan seksual atau pemerkosaan anak oleh guru bisa dihukum mati atau larangan mengajar seumur hidup. Nol toleransi untuk malapraktik berarti penegakan disiplin administratif dan pidana, plus pemecatan jika terbukti. Guru “secara profesi” dilindungi sedemikian rupa. Guru juga dilindungi dari gunjingan atau hinaan, dengan upaya ringankan beban kerja tidak perlu.
Contoh Kasus
Kasus guru SD di China (2015) divonis hukuman mati karena telah memperkosa 26 anak perempuan. Hukuman itu menunjukkan sikap keras pemerintah. Pada 2021, aturan baru larang hukuman fisik mulai berlaku, mencegah konflik guru-orang tua. Beberapa sekolah swasta mensyaratkan persetujuan orang tua untuk kedisiplinan fisik, tapi tetap di bawah pengawasan ketat.
Penutup
Jadi kalau akhir-akhir ini di beberapa daerah guru kok tidak dihormati dan dihargai padahal mereka telah mengabdi dengan tulus ikhlas, juga digaji sangat kecil (tidak memadai, tidak layak) dan masih sangat mudah dihukum oleh orangtua murid atau dilaporkan ke aparat hukum. Itu fenomena yang sangat memprihatinkan bagi para “Oemar Bakrie” ini. Beban berat guru mendidik, membentuk karakter (agar jujur, disiplin) tetapi jasa-jasa mereka seolah hanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh jasa mereka sangat tidak diapresisasi. Dimana pemerintah (negara seolah tidak hadir). Sungguh Ironis !
