Oleh: Heri Suheri, C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS.

Pagi itu, seorang staf  pegawai suatu instansi di Bangka Belitung melangkah masuk ke lobi kantornya seperti biasa. Tapi hari ini ada yang berbeda. Di dinding yang dulu polos, kini terpasang tiga panel kisi dulang berwarna kuning perpaduan corak merah. Di atas meja resepsionis, ukiran Melayu Babel menyambut dengan lekuk halusnya. Ia tersenyum. “Rasanya nyaman dan semangat,” gumamnya pelan.

Untuk menghadirkan jati diri Bangka Belitung di ruang publik, kita ternyata tidak harus menunggu gedung baru berdiri megah dengan anggaran miliaran. Perubahan bisa dimulai dari hal yang paling dekat dan sederhana, seperti menambahkan ornamen bernuansa budaya lokal. Di tengah padatnya prioritas pembangunan, “penataan cerdas” pada gedung-gedung perkantoran yang sudah ada baik milik pemerintah maupun swasta menjadi cara yang ramah, hemat, dan kasat mata untuk merawat identitas “Negeri Serumpun Sebalai”.

Baca Juga  554 Kepala Keluarga Mengungsi Akibat Banjir di Makassar

Mengapa tambahan ornamen kearifan, dan budaya lokal penting? Karena dalam keseharian, manusia mengenali sebuah tempat lewat petunjuk visual yang cepat ditangkap mata. Gedung perkantoran modern dengan fasad kaca memang terlihat rapi dan bersih. Namun, tanpa sadar, ia seringkali diam. Ia belum bercerita tentang tanah tempatnya berpijak.

Bayangkan jika di lobi gedung ditambahkan beberapa panel kisi replika dulang yang artistik. Bayangkan ukiran khas Melayu Babel yang halus bertengger di atas papan nama. Bayangkan railing tangga yang biasanya polos, kini diberi sentuhan motif batik cual dari timah. Tanpa membongkar struktur utama, gedung itu pelan-pelan mulai “menyapa”. Ia berbicara dengan bahasa visual khas Babel.

Baca Juga  Harga BBM Pertamax Turun, Konsumsi Meningkat Sampai 14 Persen

Ornamen, pada akhirnya, adalah jembatan kecil. Ia menghubungkan beton dan kaca dengan tanah, sejarah, dan manusia. Ia mengingatkan pegawai yang datang setiap pagi bahwa mereka bekerja nyaman seperti di rumah sendiri. Ia menyambut tamu dari luar daerah dengan cerita, bukan sekadar AC yang dingin. Ia mengenalkan anak-anak sekolah yang study tour pada keindahan yang diwariskan leluhur bukan lewat buku, tapi lewat dinding yang bisa mereka sentuh.

Menambahkan sentuhan ornamen ternyata bukan sekadar urusan mempercantik tampilan. Di balik lekuk batik pucuk rebung dengan motifnya yang melambangkan kerukunan dan warna hijau dipilih karena mengandung filosofi kesejukan, harapan, dan pertumbuhan.

Dengan menyusun desain dasar ornamen khas Serumpun Sebalai seperti kisi dulang, replika daun simpur, berbagai jenis ukiran Melayu Bangka Belitung, atau motif cual. Desain itu menjadi milik bersama, bisa dipakai siapa saja. Setelahnya, kantor-kantor dinas, BUMN, BUMD, atau swasta yang hendak merenovasi tampilannya tinggal menggandeng pengrajin lokal untuk mewujudkannya.

Baca Juga  Teori Administrasi Publik Tak Lagi di Buku Saja