Ketika Gedung Kantor Mulai Bercerita: Ornamen Kecil, Identitas Besar untuk Babel
Hitung-hitungan sederhananya begini!, satu kantor menambahkan 50 meter persegi panel kisi dulang. Anggarannya masih sangat terjangkau untuk ukuran APBD. Namun bila sepuluh kantor melakukan hal serupa, nilainya menjadi berarti. Dan yang paling penting, uang itu tidak terbang ke luar pulau. Ia mampir ke sanggar las di Pangkalpinang, ke perajin GRC di Sungailiat, ke tangan seniman pengukir timah di Mentok, dan perajin, atau seniman Babel lainnya.
Daripada anggaran untuk membeli granit impor atau wallpaper dari Jakarta, alangkah baiknya jika ia berputar di Babel sendiri. Kantor menjadi lebih berkarakter, pengrajin mendapat pekerjaan, dan kita semua ikut menabung identitas. Tanpa sadar, kita bisa lupa pada ciri khas sendiri. Saat semua gedung tampak seragam kotak, kaca, dan dingin identitas pelan-pelan memudar, seperti cat yang tergerus hujan.
Di sinilah ornamen bekerja sebagai pengingat yang terpatri. Bagi kepala daerah yang baru menjabat, mempercantik satu sudut kantor dengan nuansa arsitektur kearifan lokal di tahun pertama bisa menjadi simbol yang sederhana namun kuat: bahwa pembangunan tetap berpijak pada akar budaya. Tidak perlu mewah. Cukup satu dinding lobi yang bernafas dulang. Cukup satu gerbang masuk yang bercerita tentang kearifan, budaya lokal Negeri Serumpun Sebalai, tentang batik, ukiran, atau satu taman kecil dengan rumpun lada sebagai penanda inilah Babel.
Jika langkah kecil ini dilakukan bersama dari kantor gubernur hingga kantor desa, BUMN, BUMD, kedinasan, atau swasta, maka dalam waktu yang tak lama, wajah Babel akan terasa lebih hangat. Masyarakat yang datang mengurus KTP atau izin usaha, atau kegiatan lainnya akan bergumam dalam hati: “Ini rumah kita, Ini ciri kita.” Memulai dari yang dekat, merawat bersama, bagaimana memulainya? Pelan-pelan, tapi pasti. Pertama, membuat panduan bersama. Pemerintah daerah, Ikatan Arsitek Indonesia Babel, dan Dekranasda dapat duduk satu meja menyusun ornamen baku yang indah, terjangkau, dan mudah diterapkan. Bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk memudahkan.
Kedua, mulai dari yang siap. Kantor pelayanan publik yang sedang direnovasi adalah percontohan paling alami. Tambahkan sentuhan arsitektur kearifan lokal di sana. Biarkan publik melihat, merasakan, lalu meniru. Ketiga, beri apresiasi bagi yang peduli. Pemerintah bisa memberikan penghargaan atau kemudahan bagi gedung swasta, BUMD, dan perbankan yang ikut mempercantik kantornya dengan identitas lokal. Karena merawat budaya adalah kerja bersama, bukan beban satu pihak.
Kita sering berharap Bangka Belitung lebih mudah dikenali dunia. Padahal, caranya bisa dimulai dari yang paling dekat yaitu railing tangga, langit-langit lobi, atau papan nama di kantor. Identitas tidak selalu lahir dari proyek besar yang megah. Ia sering kali tumbuh dari kepedulian kecil yang dilakukan hari ini. Tidak perlu menunggu gedung baru berdiri. Dengan menambahkan ornamen, gedung lama pun bisa ikut bercerita.
Karena bagi masyarakat, kantor yang menampilkan sentuhan lokal bukan sekadar hiasan di dinding. Ia adalah tanda bahwa mereka diingat. Bahwa mereka dihargai. Bahwa mereka sungguh bagian dari “Negeri Serumpun Sebalai”.
