Oleh dr. Faturrachman — Dokter umum di RSUD Junjung Besaoh, Bangka Selatan

Pada awal Mei 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah di Sumatra telah memasuki awal musim kemarau, ditandai dengan berkurangnya curah hujan harian dan cuaca yang cenderung lebih panas.

Secara spesifik, prakiraan suhu siang hari di Kecamatan Toboali pada periode ini (4-13 Mei 2025) berkisar antara 26°C hingga 32°C. Faktor pemanasan global, letak geografis yang dekat garis khatulistiwa, topografi daerah pesisir pantai (ketinggian 0-50 mdpl), banyaknya daerah galian tambang, kelembaban udara yang tinggi (Relative Humidity >60%), serta hembusan angin yang cenderung pelan (<10 km/jam) dapat membuat suhu udara terasa lebih panas dibanding suhu sebenarnya.

Baca Juga  Buku "Buk Geriul": Lokalitas, Politik, dan Religi dalam Cerita Pendek

Beberapa kelompok okupasi yang sering melakukan aktivitas di luar ruangan, seperti nelayan, petani, pekerja tambang, dan kurir, memiliki frekuensi, durasi, dan intensitas paparan panas yang lama, sehingga berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Selain itu, kelompok sosial-ekonomi rendah, anak-anak (usia 0-18 tahun), lansia (usia >60 tahun), serta individu pengidap penyakit kronis juga rentan terpengaruh cuaca panas.