Penguatan Akuntansi sebagai Pilar Kemajuan Ekonomi Bangka Belitung
Tak hanya di sektor usaha kecil, tantangan juga terjadi di ranah pemerintahan desa. Dana desa yang jumlahnya cukup besar rata-rata mencapai miliaran rupiah per tahun sering kali tidak dikelola dengan prinsip-prinsip akuntansi yang benar.
Laporan BPK RI Perwakilan Babel tahun 2023 menyebutkan bahwa sejumlah pemerintah daerah masih mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) karena lemahnya sistem pelaporan dan pengawasan keuangan.
Melihat realitas tersebut, menjadi jelas bahwa penguatan literasi akuntansi bukan lagi kebutuhan khusus, melainkan sudah menjadi kebutuhan publik. Akuntansi harus dipahami tidak hanya oleh mahasiswa dan profesional, tetapi juga oleh masyarakat umum terutama pelaku UMKM, perangkat desa, dan generasi muda.
Lembaga pendidikan di Bangka Belitung sebenarnya telah memulai langkah baik. SMK dan universitas seperti Universitas Bangka Belitung (UBB) telah membuka program studi akuntansi.
Namun tantangannya adalah menjembatani antara teori di kelas dan praktik nyata di lapangan. Mahasiswa akuntansi bisa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pendampingan UMKM, pelatihan pembukuan desa, hingga program edukasi keuangan masyarakat.
Pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan komunitas masyarakat perlu membentuk sinergi untuk mendorong penerapan akuntansi di semua sektor. Beberapa solusi yang bisa dilakukan antara lain:
- Pelatihan akuntansi praktis untuk UMKM dan aparat desa secara rutin.
- Digitalisasi pembukuan, misalnya melalui aplikasi akuntansi sederhana berbasis Android.
- Inkubator akuntansi komunitas, yang melibatkan mahasiswa dan relawan akuntan untuk membina usaha kecil.
- Transparansi keuangan desa, dengan mendorong publikasi laporan keuangan melalui media desa atau papan informasi.
Pembangunan ekonomi yang sehat harus berdiri di atas pondasi keuangan yang kuat. Akuntansi adalah alat untuk menciptakan keuangan yang jujur, tertib, dan terukur.
Di Bangka Belitung, pengaruh akuntansi akan sangat besar jika diberdayakan secara merata dari kota hingga desa, dari pelaku usaha hingga aparat pemerintahan.
Sudah saatnya akuntansi tidak lagi dipandang sebagai bidang eksklusif. Ia adalah alat pemberdayaan ekonomi rakyat. Jika Babel ingin maju secara adil dan berkelanjutan, maka penguatan peran akuntansi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah. Karena di balik setiap ekonomi yang tangguh, selalu ada akuntansi yang tertib dan transparan.
