Senja Terakhir Belle
Dika, sahabatnya sejak SMP, sering datang menjenguknya. Mereka dulu selalu bersama, duduk di bangku paling belakang saat pelajaran, berbagi cemilan di kantin, atau sekadar mengeluh tentang tugas-tugas sekolah. Sekarang, Dika hanya bisa duduk di samping tempat tidurnya, memandangi Belle yang semakin kurus.
“Kamu pasti sembuh, Belle,” kata Dika suatu hari, suaranya sedikit bergetar.
Belle tersenyum. “Kalau aku nggak bisa sembuh, kamu harus tetap semangat, ya?”
Dika menunduk, menggenggam erat tangan Belle yang terasa dingin. la ingin marah, ingin menangis, tapi ia tahu Belle tidak butuh belas kasihan.
Akhirnya pada suatu malam, tubuh Belle panas tinggi dan lbunya yang panik langsung membawanya ke rumah sakit dengan sisa uang yang mereka miliki. Di ruang IGD, dokter memasang selang oksigen di hidungnya, mencoba menstabilkan napasnya yang semakin berat.
“Bu, Belle butuh perawatan intensif,” kata dokter dengan nada serius. “Tetapi biayanya …”
lbunya menggigit bibirnya, menahan tangis. “Kami nggak punya uang, Dok!”
Dokter terdiam sejenak sebelum menghela napas panjang. Tanpa biaya, Belle tidak bisa mendapatkan pengobatan terbaik. Belle yang mendengar percakapan itu hanya bisa tersenyum kecil.
la sudah menduga hal ini akan terjadi. Malam itu, ia memandangi langit dari jendela kamar rumah sakit. Tidak ada senja. Hanya hitam pekat dan beberapa bintang yang berkilauan samar.
la menarik napas dalam-dalam. Dada dan tenggorokannya terasa semakin berat.
“lbu … panggilnya pelan.
lbunya yang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangannya. “lbu di sini, Nak.”
Belle tersenyum Iemah. “Aku lelah … Bolehkah aku tidur sebentar?”
lbunya tersenyum meskipun air matanya jatuh. “Tidur saja sayang… lbu di sini.”
Belle menutup matanya perlahan. Di luar, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan langit yang semakin gelap. Di atap rumahnya yang kini sepi, angin sore berembus pelan, seolah membawa pergi kenangan seorang gadis yang pernah begitu mencintai senja.
