Konsumen, di sisi lain, mengurangi pembelian atau beralih ke sumber protein lain yang lebih murah, seperti tahu dan tempe. Ini tentu berdampak pada penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Di sisi lain, peternak ayam lokal sebenarnya memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi. Namun, tantangan seperti biaya pakan yang tinggi, kurangnya modal, serta keterbatasan teknologi masih menghambat peningkatan produksi ayam lokal.

Padahal, jika dikelola dengan baik, penguatan peternakan lokal bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menstabilkan harga dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.

Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu turun tangan lebih aktif. Subsidi pakan, pelatihan bagi peternak, serta penguatan koperasi atau kelompok tani bisa menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kemandirian pangan di Bangka.

Baca Juga  Kawin Massal, Tradisi Unik yang Harus Dijaga Kelestariannya

Selain itu, pengawasan distribusi dan harga di tingkat pedagang juga perlu diperketat agar tidak terjadi permainan harga yang merugikan konsumen.

Kenaikan harga ayam bukan hanya masalah pasar biasa, melainkan isu ekonomi rakyat yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Masyarakat Bangka memerlukan solusi yang adil dan berkelanjutan agar stabilitas harga pangan tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan peternak maupun konsumen.