Karya: Yoelchaidir

Malam kian beranjak saat bulan sabit mengawasi dari balik rindangnya dedaunan pohon durian yang gemulai menari di terpa sayup sang bayu.

Gemercik air samar terdengar dari balik rerimbunan bambu di ujung jurang seakan berdendang melantunkan irama tanpa lirik.

Api masih bangga menjilat kayu kayu kering menyisakan abu di ujung bara dengan asap asap meliuk melambai pergi bersama angin dingin di malam Jumat akhir bulan Desember.

Untuk ke sekian kalinya bunyi durian jatuh membuat aku berniat beranjak bangkit dan menggapai senter yang terselip dibilah dinding pondok kelekak usang.

Namun kali ini, aku ditegur Bang Sopyan.

“Lah dak usah dicarik agik, itu pe “mese” di hini nek ngagel engka hebab engka baru hekali ni datang ke hini,” kata Sopyan.

Baca Juga  Manusia

“Die nek bekenal ken engka,” sambung bang Sopyan…

Serta merta aku terdiam. Bulu kuduk merinding mendengar kata kata Bang Sopyan pewaris kelelak usang malam itu.

Aku yang sedari tadi masih terdiam mengingat kata kata Bang Sopyan.

Aku terkesima dalam lamunan menatap kunang kunang bercumbu mesra di antara ilalang liar.

Mataku bergoyang sontak memaling kan pandangan pada sekelebat bayangan melintas tepat di sisi sebelah kiri di mana aku duduk sambil menikmati secangkir kopi.

Tak sempat mengedipkan mata yang kuarahkan pada bayangan yang melintas menuju suara gemercik air di balik rimbun bambu.