Serian Keluarga Ummi: Mi, Coba Ngusul Bantuan Rumah?
“Keren dong, kalok berubah jadi bagus,” timpal Abi.
“Berarti mereka punya duit banyak, ya. Kan pada punya sapi, kambing, sama sawit,” tukas Adek.
“Bukan, Dek, tapi dapat bantuan dari pemerintah, seperti bedah rumah itu. Itu pun dapat bahan bangunan. Selebihnya mereka usaha sendiri membangun rumahnya. Makanya model rumah beda-beda, gak seragam,” jelas Abi.
“Nah, Bi, mereka aja bisa, kenapa kita gak minta bantuan juga?” usul Adek.
“Haha, siapa yang mau memberi kita, Dek? Kita gak termasuk yang harus diberi bantuan. Abi dan Ummi punya pekerjaan tetap. ASN gak bisa dapatlah, Dek,” jelas Ummi.
“Tapi rumah kita paling jelek di antara rumah tetangga, Mi, tuh, lihatlah, papannya sudah kusam.” Adek memandang dinding rumah yang terbuat dari papan.
“Gak papa, yang penting orangnya gak kusam.” Abi menimpali.
“Mi, coba Ngusul Bantuan rumah, masak gak bisa?” kekeh Adek lagi.
“Bantuan rumah itu untuk mereka yang gak mampu, Dek,” jelas Ummi.
“Kita kan juga gak mampu, Mi, makanya rumah kita masih buluk, ya kan, Bi?”
“Bukan gak mampu, belum aja, hihi, untuk beli minyak dulu duitnya. Mengunjungi Adek, Abang, dan anak-anak lainnya, kan, lumayan jauh,” jelas Abi.
“Kok beli minyak, Bi?” Adek bingung, tampak dari raut wajahnya. Namun, kemudian berlalu membawa barang-barang dari dalam mobil. Sedangkan Ummi, membuka pintu rumah yang saat pintunya dibuka sudah menimbulkan deritan apa jeritan, itu.
“Ya, beli minyak setiap pekan, mengunjungi Adek, kemudian mengantar pakaian Adek yang sudah dicuci. Kan butuh minyak tu kuda besinya.
“Oh, bensin? Ya, kan, itu makanannya kuda, kalau gak dikasih minyak, gak bisa jalan.”
“Makanya, jangan minta bantuan rumah lagi, ya?” jelas Ummi, Adek pun mengangguk tanda mengerti.
