Peran Bahasa dalam Meningkatkan Branding Bisnis Digital
Dari sisi visual video menampilkan sajian es kopi dengan topping cokelat yang melimpah, disorot dari sudut yang menggoda secara estetika. Penempatan produk di depan backdrop merah dengan font produk yang besar menjadikan fokus tetap pada menu unggulan, sekaligus mendukung kekuatan brand secara visual.
Secara interaksi sosial konten ini mencatat 215 suka, 34 komentar, 33 kali disimpan, dan 16 kali dibagikan. Data ini menunjukkan bahwa konten tersebut berhasil membangkitkan rasa penasaran dan keinginan audiens untuk mencoba produk, atau bahkan membagikannya kepada orang lain.
Tingginya angka simpan dan komentar menjadi indikator bahwa caption dan visual yang digunakan mampu menciptakan koneksi emosional dan menggugah respons spontan dari penonton.
Melalui pendekatan bahasa yang konsisten baik dalam promosi di TikTok maupun Instagram dan Kopi Kenangan berhasil memposisikan dirinya sebagai brand yang inklusif, gaul, dan menyenangkan.
Identitas ini tidak dibangun semata dari nama produk yang penuh permainan kata seperti “Nobo Aren Latte” atau “Kenangan Mantan,” tetapi juga dari gaya tutur yang komunikatif dan menghibur. Hal ini membedakan Kopi Kenangan dari kompetitor yang cenderung menggunakan pendekatan formal dan generik.

Gambar 1. Caption promosi produk Kenangan Frappe di TikTok dengan gaya bahasa santai dan kata ‘ENAAK!’
- Bahasa dalam Engagement dan Interaksi Pelanggan
Gaya bahasa santai yang digunakan Kopi Kenangan memicu tingginya tingkat interaksi pelanggan di media sosial. Contohnya kalimat seperti ‘Emang bisa? Cari tau jawabannya di video ini ya, Beb!’ dalam promosi pembagian stiker gratis, menumbuhkan rasa penasaran sekaligus menciptakan kedekatan.
Interaksi seperti like, komentar, dan share sering kali tinggi pada konten yang mengandung humor atau keakraban, sebagaimana terlihat pada postingan TikTok dengan ajakan ‘Tonton video ini sampai selesai’. Gaya bahasa ini tidak hanya menyampaikan pesan promosi, tetapi juga mendorong partisipasi dan percakapan dari audiens.
Pelanggan merasa seperti berbicara dengan teman, bukan dengan brand yang kaku. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang komunikatif menjadi alat engagement yang kuat dalam digital marketing.
Gaya bahasa santai dan komunikatif yang digunakan oleh Kopi Kenangan menjadi kekuatan utama dalam membangun interaksi dengan konsumen melalui media sosial.
Dalam unggahan promosi “bagi-bagi stiker gratis,” kalimat seperti “Emang bisa? Cari tau jawabannya di video ini ya, Beb!” menjadi contoh konkret bagaimana brand membangun nuansa percakapan yang kasual dan akrab. Penggunaan sapaan informal dan pertanyaan retoris menciptakan kesan seolah brand sedang berbicara langsung dengan konsumen, layaknya seorang teman.
Narasi ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong rasa penasaran audiens untuk menonton video secara utuh. Strategi tersebut berfungsi sebagai call to action yang efektif tanpa terkesan mengarahkan secara eksplisit.
Keakraban bahasa ini memperkuat identitas Kopi Kenangan sebagai brand yang dekat dengan keseharian anak muda, sekaligus menghindari kesan formalitas yang kaku dan jarang menarik perhatian di platform seperti TikTok. Secara visual video menampilkan elemen-elemen yang ceria dan penuh warna, seperti desain stiker yang lucu dan tumbler dengan logo hati yang khas.
Visual ini mendukung narasi brand yang menyenangkan dan inklusif, serta menarik secara estetika bagi generasi muda yang sangat visual-oriented dalam konsumsi konten digital.
Dari sisi interaksi sosial unggahan ini memperoleh 88 suka, 23 komentar, 17 kali disimpan, dan 21 kali dibagikan. Angka ini menunjukkan engagement tinggi untuk konten berbasis promosi ringan. Tingginya jumlah komentar dan simpanan menunjukkan bahwa audiens tidak hanya menyukai konten tersebut, tetapi juga ingin kembali mengakses atau membagikannya kepada orang lain. Ini membuktikan bahwa penggunaan bahasa yang hangat, disertai visual yang menarik, mampu membangun hubungan emosional dan meningkatkan partisipasi pengguna secara signifikan

Gambar 2. Caption promosi cashback dengan sapaan akrab dan ajakan aksi
- Bahasa sebagai Pembeda Kompetitif
Dalam industri minuman kopi yang kompetitif Kopi Kenangan memanfaatkan strategi bahasa sebagai elemen diferensiasi yang kuat. Dalam unggahan promosi produk “Nobo Aren Latte,” narasi yang digunakan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga dibalut dengan gaya bahasa yang santai dan akrab.
Frasa seperti “Udah coba Nobo Aren Latte belum? Mending order sekarang deh” menciptakan kedekatan emosional dengan audiens muda yang menjadi target pasar utama. Gaya bahasa ini mencerminkan percakapan sehari-hari, sehingga terasa lebih personal dan tidak berjarak.
Selain itu pada deskripsi produk seperti “perpaduan unik nobo coconut milk, susu segar, gula aren, dan espresso” menekankan sisi keunikan dan keotentikan rasa yang ditawarkan.
Pilihan diksi ini menggugah imajinasi pembaca sekaligus menyoroti keistimewaan produk dibandingkan kompetitor. Penutup kalimat seperti “siap jadi temen ngopi kamu hari ini” memperkuat kesan bersahabat dan relevan dengan gaya hidup konsumen urban.
Dari sisi visual gambar yang digunakan menampilkan produk dengan efek cipratan cairan yang dinamis, memperkuat kesan kesegaran dan kenikmatan. Latar belakang polos dengan warna merah marun menciptakan kontras kuat yang menyoroti produk sebagai pusat perhatian. Elemen tambahan seperti potongan gula aren dan biji kopi di sekeliling gelas memperkuat identitas lokal dan kesan alami dari bahan-bahan yang digunakan.
Secara sosial, unggahan ini berhasil menarik perhatian audiens dengan memperoleh 441 suka, 25 komentar, dan 17 kali dibagikan. Angka interaksi ini menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan melalui bahasa dan visual diterima dengan baik oleh pengikutnya. Hal ini mencerminkan keberhasilan strategi komunikasi Kopi Kenangan dalam membangun engagement yang kuat di media sosial.
Dengan menggabungkan narasi yang ringan, visual yang menarik dan strategi interaksi sosial yang tepat Kopi Kenangan tidak hanya menonjol dalam aspek rasa, tetapi juga dalam membangun kedekatan emosional dan relevansi budaya dengan konsumennya. Strategi ini menjadikan merek bukan hanya sekadar penyedia minuman, tetapi juga bagian dari gaya hidup generasi muda.
Gambar 3. Promosi Honey Lemonade dengan gaya bahasa personal dan emosional
Grafik berikut menunjukkan perbandingan engagement tiga konten promosi Kopi Kenangan di media sosial (TikTok dan Instagram), berdasarkan jumlah like, komentar, dan share. Ketiga konten yang dianalisis mencakup promosi Kenangan Frappe, Promo Cashback, dan Honey Lemonade.
Dari grafik terlihat bahwa konten Honey Lemonade memperoleh interaksi tertinggi secara keseluruhan, dengan lebih dari 250 like dan jumlah komentar serta share yang juga cukup signifikan. Konten Kenangan Frappe menempati posisi kedua, dengan lebih dari 200 like dan tingkat share tertinggi di antara ketiganya. Sementara itu, konten Promo Cashback memiliki engagement paling rendah, baik dalam jumlah like, komentar, maupun share.
Temuan ini memperkuat argumen bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam caption berperan penting dalam memengaruhi respons audiens. Konten yang menggunakan gaya bahasa yang ekspresif, santai, dan emosional seperti “semuanya ENAAK!” atau “mending order sekarang deh” cenderung menghasilkan interaksi yang lebih tinggi. Sebaliknya, konten promo yang bersifat informatif dan lebih formal seperti “Diskon khusus” atau “Promo Cashback” cenderung menghasilkan engagement yang lebih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam ranah digital terutama di platform seperti TikTok dan Instagram, strategi komunikasi yang mengedepankan keakraban, emosi, dan daya tarik visual jauh lebih efektif dalam membangun keterlibatan audiens dibandingkan pesan-pesan promosi yang hanya menekankan fungsi atau harga..
Gambar 4. Grafik Engagement pada Konten Promosi Kopi Kenangan
Kesimpulan
Penelitian ini menggarisbawahi betapa pentingnya bahasa sebagai elemen strategis dalam membentuk identitas merek yang kuat di era digital. Studi kasus pada Kopi Kenangan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kasual, gaul, dan emosional dalam promosi media sosialnya berkontribusi signifikan terhadap pembentukan citra merek yang akrab, inklusif, dan relevan bagi audiens muda. Bahasa yang komunikatif terbukti meningkatkan keterlibatan pelanggan, sekaligus membedakan merek dari kompetitor di pasar yang padat.
Temuan ini menekankan bahwa pemilihan bahasa dalam komunikasi digital lebih dari sekadar aspek teknis; ia merupakan bagian krusial dari strategi branding.
Bisnis dapat memanfaatkan gaya bahasa yang selaras dengan target audiens untuk membangun suara merek (brand voice) yang autentik dan menarik. Integrasi bahasa informal, sapaan personal, dan diksi populer dapat mempererat hubungan emosional dengan konsumen dan meningkatkan loyalitas. Oleh karena itu, bahasa harus diperhitungkan sebagai bagian integral dari strategi komunikasi merek, tidak hanya dalam promosi, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari di platform digital.
Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan analisis komparatif antar industri dan segmentasi pasar yang berbeda guna memahami efektivitas bahasa dalam berbagai konteks bisnis. Pendekatan kuantitatif melalui eksperimen atau analisis data besar dapat memberikan hasil yang lebih objektif dan tergeneralisasi. Selain itu eksplorasi dampak gaya bahasa dalam konteks multibahasa dan lintas budaya juga penting, mengingat ambisi ekspansi global merek.
Daftar Pustaka
Advertising, S. M. (2024). The Role of Emotional Content on Consumer Engagement. September.
Fadhilah, A. N., Fajriyah, N., Nikmah, A., Hermanto, A. S., & Balqis, A. (2024). Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pemasaran Digital E- Commerce : Studi Kasus Iklan Shopee. 2, 1–14.
Fadilah, F., Komunikasi, P. I., Komunikasi, J. I., Ilmu, F., Politik, I., Komunikasi, P. I., Komunikasi, J. I., Ilmu, F., & Politik, I. (2025). Strategi Personal Branding Budiono Sukses sebagai Food Vlogger dalam Memperkuat Brand Image ( Studi Kasus pada Akun YouTube Budiono Sukses ). 09.
Fahrurrozi, M., & SE, M. M. (2023). Entrepreneurship & Digitalisasi: Mengembangkan Bisnis di Era 5.0. Universitas Hamzanwadi Press.
Febriana, I., Hutabarat, F. B., Kristiani, M., & Diani, S. (2024). Pengaruh Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi dalam Bisnis Internasional di Era Digital. 4.
Harto, B., Rukmana, A. Y., Boari, Y., SR, T. L. R., Rusliyadi, M., Aldo, D., Juliawati, P., & Dewi, Y. A. (2023). WIRAUSAHA BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI: Peluang usaha dalam meyongsong era society 5.0. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Hasan, K., Husna, A., Muchlis, M., Fitri, D., & Zulfadli, Z. (2023). Transformasi komunikasi massa era digital antara peluang dan tantangan. JPP Jurnal Politik dan Pemerintahan, 8(1), 41–55.
Heidy, G., Amanda, J., Komunikasi, I., Mas, L. K. H., & No, M. (2024). Sketsa bisnis. 11(01), 24–41.
Hodijah, C., Yani, N. W. M. N., & Mohamad Sajili, S. E. (2025). Komunikasi Bisnis dalam Era Artificial Intelligence. Takaza Innovatix Labs.
Ifadhila, I., Rukmana, A. Y., Erwin, E., Ratnaningrum, L. P. R. A., Aprilia, M., Setiawan, R., Judijanto, L., & Setiawan, H. (2024). Pemasaran Digital di Era Society 5.0: Transformasi Bisnis di Dunia Digital. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Ningsi, S., Kasoni, M., & Rahmah, D. A. (2022). Pengaruh Penggunaan Bahasa Indonesia Terhadap Pemasaran Produk Kopi Durian Ananda. 3(2), 440–446. https://doi.org/10.47065/arbitrase.v3i2.545
Pelupessy, M. M., SE, M. M., Nuryakin, R. A., SE, M. M., CHRP, C., CPS, C. H. L., CCHS, C. T. M., PIMC, C., Salampessy, A. P., & SE, M. A. (2025). Digitalpreneur: Jalan Menuju Kesuksesan di Era Entrepreneurship 4.0. Takaza Innovatix Labs.
RENGKO HR, S. (2021). Mantra dan Kelong Pertanian Komunitas Tulembang di Kabupaten Gowa: Kajian Linguistik Antropologi. Universitas Hasanuddin.
Rusdin, F. R., Sos, S., Kom, M. I., Ramonita, L., Kom, M. I., Ayu, I. S., Kom, M. I., Putri, I. G. A. A. A., Ds, S., & Yulianto, A. (2025). DIGITAL BRANDING (STRATEGI MEREK DI DUNIA DIGITAL). Penerbit Widina.
Yuwono, T., Triwibowo, R. N., Tajudin, T., & Sefiani, H. N. (2024). Digital Marketing UMKM. UNAIC Press Cilacap.
