Serial Keluarga Ummi: Rumah Ulat Ketikung
“Kok, rumah ulat, Mi? Ulat ketikung tu apa?” tanya Ammar penasaran.
“Ulat pisang, kata orang Sungailiat tu namanya ulat ketikung. Ni sudah datang, sudah dibayar.” jawab Ummi di telepon.
“Mi, aku gak pesan ulat ketikung. Aneh!” bingung Ammar.
“Lah, apa namanya coba? Pas Ummi buka, rumah ulat ternyata. Kamu kalok masuk ke dalamnya ‘kan kayak ulat ketikung, tu.”
“Oalah, sleeping bag- nya udah datang, ya? Ya, nanti kuambil. Itu kantong tidur, Mi, bukan rumah ulat.” jelas Ammar.
“Ya, kan mirip, kalau masuk ke dalamnya, apa gak mirip ulat ketikung? Apalagi melungker, mirip.”
“Iya, sih, mirip. Masak disamain ulat ketikung, aku?”
“Apalah anak sama emak ni?” bingung Abi.
“Ya, udah, Mi, aku masih ada kerjaan, nanti pulang kuambil, terima kasih udah dibayarin, hehe … assalamu’alaikum” tutup Ammar.
“Wa’alaikumussalam.” Ummi menutup telepon.
“Harumnya kaya apa, ya? Kalau gak dicuci-cuci. Harus sering dibersihkan biar gak bau.” Ummi membatin sambil melirik rumah ulat yang barusan dibuka.
Sesimpel itu menahan hawa dingin bila berada di luar ruangan, cukup masuk ke kantung tidur, tidur pun menjadi tenang, sepertinya begitu, pikir Ummi. Ummi masuk ke dalam kantong tidur sambil senyum-senyum. Memang seperti ulat ketikung.
