Setiap hari pelabuhan Tanjung Gudang dipenuhi hiruk pikuk bongkar muat barang. A djat memiliki armada kapal yang cukup banyak. Jalur utama perdagangan Pulau Bangka dengan daerah lainnya yaitu Jakarta dan Surabaya.

Di samping memiliki armada kapal, A Djat juga memiliki armada darat berupa truk-truk besar buatan Amerika sepeti Chevrolet C50 dan Dodge. Armada-armada inilah yang mengangkut dan menyuplai hampir sebagian besar kebutuhan sembako ke seluruh Pulau Bangka. Mulai dari Sungailiat, Pangkalpinang, Toboali dan Mentok.

Sementara itu untuk menampung stock barang-barang yang diangkut dari Pelabuhan sebelum disuplay untuk memenuhi kebutuhan pasar, A Djat juga membangun beberapa pergudangan di beberapa tempat. Baik di kawasan pelabuhan maupun di tempat-tempat lainnya di Kota Belinyu.

Baca Juga  Kibarkan Satu Bendera

Seiring perjalanan waktu, di era tahun 80 an, Pelabuhan Tanjung Gudang mulai menampakan kelesuan dengan meninggalnya si pemilik perusahaan, Sudradjat.

Dari waktu ke waktu berikutnya pada akhirnya aktivitas pelabuhan Tanjung Gudang berhenti beroperasi dan meninggalkan kenangan dan sejarah yang sulit dilupakan dalam aktivitas perekonomian Pulau Bangka.

Sayangnya pasca A Djat meninggal dan di perjalanan waktu berikutnya Pelabuhan Tanjug Gudang betul-betul berhenti dan mati sebagai salah satu pelabuhan bongkar muat barang.

Kini Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu memang telah berubah wujud menjadi sebuah pelabuhan yang tidak hanya berkiprah sebagai pelabuhan bongkar muat barang, tetapi juga diawal pembangunannya untuk kebutuhan angkut penumpang yang dikelola secara komersial oleh Badan Usaha milik Negara PT. Pelindo 2. Kemudian rencana selanjutnya  akan dikembangkan sebagai pelabuhan dengan beberapa tahapan sebagai koneksi regional dan global di masa mendatang.

Baca Juga  Kejujuran dan Validitas Data

Dengan mempertimbangkan tingkat kejenuhan pada Pelabuhan Pangkal Balam, pengembangan Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu adalah sebagai salah satu solusi disamping mengembalikan kejayaan Pelabuhan Tanjung Gudang di era tahun 70 an oleh Sudradjat yang mengcover lebih dari separuh kebutuhan masyarakat di Pulau Bangka.