Karya: Sheila Florenscia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Derit jendela kayu menemaniku malam ini. Hembusan angin kencang mampu membanting jendela yang pengaitnya telah usang tersebut. Tirai kuning yang lusuh menutupinya juga ikut terbang diterpa angin. Aku berbaring di atas tempat tidurku sembari menutup sekujur tubuhku dengan selimut.

Ruangannya gelap, hanya disinari cahaya bulan dari luar, serta hawa dingin menyertainya. Ada berbagai suara acak tersebar di mana-mana, seperti rintisan air atau bunyi lonceng yang memekakkan telinga. Dari semua itu, yang paling membuatku benar-benar ketakutan setengah mati ialah ketukan pintu.

Tok… Tok… Tok….

Ada sebuah pintu kayu yang sudah lapuk tepat di hadapanku. Pintu yang diketuk dengan tempo yang lambat dari luar. Ketukan tidak hanya terdengar dalam satu waktu, melainkan setiap 20 menit sekali. Saat aku menyadarinya, seketika aku tahu bahwa ini tidak akan berakhir begitu saja.

Baca Juga  Hadirmu

Jika sebelumnya aku hanya menutup seluruh tubuhnya, sekarang dengan tanganku yang kaku, aku ikut menutup seluruh wajahku. Sehingga aku hanya bisa melihat objek remang-remang dari balik selimutku yang sudah hilang kapuknya. Ketukan semakin lama akan semakin cepat dan ganas.

Pada saat itu, aku hanya bisa menangis ketakutan tanpa bisa menggerakkan tubuhku. Seolah kekuatan dalam diriku dikuras habis. Tak hanya itu, aku juga mulai mendengar suara-suara orang yang sedang berbisik tepat di telingaku. Semakin banyak ketukan, semakin tubuh kecilku bergetar.

Tok… Tok… Tok….

Aku mulai menggumamkan doa dengan harapan agar Tuhan mau menyelamatkanku. Namun, semakin banyak doa yang kulantunkan, semakin lidahku terasa kelu. Seperti ada yang mencoba mencegahku berdoa. Pandanganku kabur karena secara sadar tidak sadar aku menitihkan air mata sepanjang waktu ini.

Baca Juga  Aku pun Masih Belajar

Dalam hati aku tahu saat ini akan datang. Dosa-dosaku  sudah sampai pada waktunya untuk dibalaskan. Hanya saja aku tidak pernah siap.

Tok… Tok… Tok….