Sudah 7 hari berturut-turut aku dihantui oleh dosa-dosaku. Kejadian yang kualami selalu berbeda setiap harinya, hanya saja aku selalu dihadapkan pada situasi yang sama, sebuah pintu yang diketuk. Biasanya aku diberi kesempatan untuk membebaskan diri, kemudian bangun di tempat berbeda hanya untuk menghadapi situasi yang sama lagi.

Makhluk apapun berada di balik pintu setiap pintu diketuk, bersiap untuk menjemputku. Semua berawal dari sebuah kesalahan, kemudian berkembang menjadi penyesalan yang buruk. Awalnya aku bertanya-tanya di mana seluruh keluargaku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mendapatkan jawabannya. Aku mengerti mengapa mereka menghilang. Semua sudah terlambat, tidak ada jalan untuk kembali.

Brak!

Pintu sudah mulai digedor dengan kuat dari luar. Tinggal beberapa menit lagi, aku akhirnya kalah. Mengetahui apa yang terjadi tanpa bisa melakukan apa-apa. Pintu terus digedor hingga pintu kayu itu retak di mana-mana. Kayu itu sudah tidak cukup kuat menghadapi entitas apapun yang ada di baliknya.

Baca Juga  Perempuan dan Pilihan Sunyi

Tak lama terdengar bunyi klik yang cepat. Kedua suara itu sudah terdengar dan masih tidak terjadi apa-apa. Sampai suara baru terdengar lagi.

Pintu mengeluarkan bunyi derit panjang. Melalui selimut, aku bisa melihat sosok hitam besar berjubah dengan mata merah menyala. Sosok itu mengangkut sebuah karung di punggungnya dan sebuah sabit di tangan kirinya. Anehnya aku hanya bisa melihatnya, objek-objek lain di sekitar seolah menghilang.

Kurasakan selimutku ditarik dari bawah dengan perlahan, dengan cepat aku menutup mataku. Aku merasa mati rasa saat kuku-kuku panjanhnya menyentuh kulitku. Saat kurasakan selimut sudah tidak lagi menutup tubuhku, diganti dengan sesuatu sedang menindihku, aku mulai membuka mataku perlahan.

Baca Juga  Kapan Bapak Jualan?

Aku melihat tubuh besarnya sedang menindihku. Dia menyeringai sangat lebar dari telinga ke telinga. Air liurnya menetes dari balik taring besarnya. Mata merahnya membelalak seolah baru saja mendapatkan mainan barunya. Dengan sisa kesadaranku, aku mendengar sosok itu bergumam padaku.

“Sekarang giliranmu….”

TAMAT