Cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya disimpan dalam hati, tapi juga perlu ditampakkan dan diwujudkan dalam amal nyata. Salah satunya adalah dengan mengenang dan mempelajari sejarah Beliau dan tentu dengan mencontoh sunnah Beliau.

Memperingati hari kelahiran beliau—Maulid Nabi SAW—dengan cara yang penuh makna dan adab bisa jadi salah satu cara kita untuk menyegarkan kembali rasa cinta dan rindu kepada Beliau.

Kebahagiaan atas kelahiran Nabi bukan bid’ah selama tidak melanggar syariat, melainkan bentuk syukur dan kecintaan. Sebagaimana kita bergembira atas ulang tahun anak, guru, atau tokoh besar, maka lebih pantas kita merayakan kelahiran insan paling mulia.

Imam As-Suyuthi dalam Husn al-Maqshid menegaskan bahwa memperingati maulid merupakan bentuk ta’dzim kepada Rasul dan syukur kepada Allah atas nikmat diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 11): Terpisah dari Rumah yang Aman

Maka dari itu, memperingati Maulid dengan zikir, shalawat, pembacaan sirah, dan sedekah adalah salah satu bentuk aktualisasi cinta yang berdampak ganda—menguatkan iman, memperdalam ilmu, dan mempererat hubungan sosial.

Menyambut Anak sebagai Amanah dan Cahaya Perubahan

Petikan kisah kelahiran ini mengajarkan bahwa kelahiran seorang anak adalah momentum besar. Bukan sekadar penambahan anggota keluarga, tapi momen sakral di mana takdir masa depan mulai digoreskan.

Sambutlah kelahiran anak-anak kita seperti umat menyambut Rasul: dengan cinta, harapan, dan doa. Tanamkan dalam diri anak nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW.  Sejak masa kecil mereka.

Bukan hanya lewat cerita tapi lewat keteladanan. Jangan remehkan masa kecil anak. Bisa jadi mereka sedang disiapkan oleh Allah untuk membawa perubahan besar.

Baca Juga  Membangun Keluarga Penuh Berkah