Aku, Pesisir, dan Sampah Plastik: Cerita yang Harus Diakhiri

Oleh: Gito — Kepala Bidang Persampahan Bangka Selatan

“Bukan patah hati yang membuatku diam di pinggir laut… tapi tumpukan sampah plastik yang sudah beranak cucu di tepian pesisir ketapang

Setiap manusia pernah terluka, tapi laut tak pernah punya pilihan untuk menangis. Ia hanya menerima:

Kemarin, Kamis 5 Juni 2025, kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema global: “Hentikan Polusi Plastik”. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan moral untuk menghadapi tantangan besar dunia seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi plastik.

Hari ini, kami duduk di pasir, bukan untuk piknik. Tapi untuk melihat dengan mata kepala sendiri: pantai yang lelah. Lelah jadi tempat pembuangan. Lelah jadi tempat selfie tapi tak diurus setelahnya. Lelah dicintai hanya saat sunset datang.

Baca Juga  Ironi Kaltim: Syahwat Fasilitas di Tengah Defisit Empati Kepemimpinan

Sebagai Kepala Bidang Persampahan di Bangka Selatan, penulis menyaksikan langsung bagaimana sampah plastik telah mencemari pesisir kita, mengancam ekosistem laut, dan berdampak pada kehidupan nelayan serta masyarakat pesisir.

Data nasional menunjukkan bahwa timbulan sampah di Indonesia mencapai 56,6 juta ton per tahun, dengan sekitar 10,8 juta ton atau 20 persen berupa sampah plastik. Ironisnya, hanya 30 persen dari total sampah tersebut yang dikelola secara layak, sementara sisanya mencemari lingkungan.