Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan sentra produksi lada putih nasional, dengan karakteristik geografis dan sosial-ekonomi yang mendukung pengembangan berbasis komoditas lokal.

Namun, masih rendahnya nilai tambah dari komoditas ini dan ketergantungan pada ekspor bahan mentah menjadi persoalan strategis. Oleh karena itu, hilirisasi berbasis riset dinilai mendesak untuk memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

Diskusi ini bertujuan untuk mengangkat potensi pemanfaatan lada putih sebagai bahan kesehatan gigi dan mulut berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, menyatukan visi lintas sektor dalam pengembangan hilirisasi perkebunan secara berkelanjutan, menjadi forum diskusi awal dalam merumuskan peta jalan riset dan intervensi masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan, menginisiasi model kolaboratif antara universitas, pemerintah, industri, dan masyarakat lokal.

Baca Juga  Swiss-Belhotel Pangkalpinang Hadirkan BBQ Dinner Spesial Hari Natal

Panelis dalam Diskusi Panel Pangan Berkelanjutan ini adalahDr. Erny Tajib, S.E., M.M. (Pakar Manajemen Inovasi), drg. Monica Dewi Ranggaini, M.K.G., FICD (Dokter Gigi sekaligus Peneliti Kesehatan Gigi berbasis Bahan Alam), Ir. Hongky Listiyadhi, M.Ars (Pelaku Usaha Pariwisata), Riwan Kusmiadi, S.T.P, M.Si (Dekan UBB), Gunawan, S.P., M.Si (Ahli Madya Penyuluh Pertanian) dengan Ahmadi Sofyan sebagai Moderator.

Topik hilirisasi menjadi sorotan utama karena menjawab tantangan ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah, mendorong penguatan ekonomi masyarakat desa melalui pengolahan lokal, menjawab kebutuhan akan produk kesehatan berbahan alami yang aman, murah dan efektif; menjadi wujud kontribusi nyata universitas dalam implementasi SDGs, khususnya poin 3 (Kesehatan), poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

Baca Juga  Tak Sadarkan Diri, Tim Sar Gabungan Evakuasi Kru MV Gudali Express di Perairan Laut Jawa

Diskusi yang berlangsung intens menghasilkan beragam perspektif. Para panelis dan peserta sepakat akan potensi besar hilirisasi, namun juga mencermati tantangan nyata seperti keterbatasan kapasitas pengolahan, keterjangkauan teknologi, serta pentingnya literasi masyarakat terhadap produk berbasis bahan alam. Meski demikian, terdapat konsensus kuat untuk melanjutkan riset dan pendampingan secara sistematis dan inklusif.

Kegiatan ini merupakan tahapan awal dari riset dan intervensi jangka panjang (multi-year) yang akan dilanjutkan dengan pengembangan laboratorium riset, pendampingan masyarakat petani, kolaborasi lintas institusi, dan peluncuran produk berbasis bahan alam dari lada putih untuk kesehatan gigi dan mulut.

Universitas Trisakti menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi yang berpihak pada masyarakat dan berbasis potensi daerah, melalui kolaborasi lintas sektor dan keilmuan yang berkelanjutan.*

Baca Juga  Dukung Puteri Model Hijab Indonesia, Melati Erzaldi Harap Lahir Generasi Muda Kreatif