Datangi DPRD Babel, Nelayan Desa Airnyatoh Adukan Dampak Limbah KIP
Suwandi berharap DPRD Babel dan pemerintah daerah dapat melakukan berbagai upaya untuk mencegah akibat dampak dari limbah atau lumpur itu sendiri. Lebih dari 2.000 penduduk ada di Desa ini yang 80% mata pencahariannya adalah nelayan.
“Kami harap pemerintah dapat membantu nelayan tradisional karena ketika lumpur terangkat, masuk ke wilayah tangkap nelayan tidak bisa keluar lagi dan lumpur itu sangat meresahkan ikan-ikan di laut. Jadi kami minta pemda melakukan upaya pencegahan akibat dari dampak lumpur itu sendiri,” ujarnya.*
Dilansir, sudah hampir dua pekan terakhir, pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan di Desa Airnyatoh, Kecamatan Simpangteritip, Kabupaten Bangka Barat (Babar), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) turun drastis.

Lantaran arah arus air laut bergerak ke Airnyatoh dari perairan Sungaibuluh, endapan lumpur inilah yang membuat pendapatan nelayan berkurang jauh. Terlebih, kapal isap yang beroperasi di perairan Bembang dalam kurun waktu 1 bukan terakhir sekitar 3 unit.
Sementara 1 unit lagi beroperasi tidak jauh dari Batubelayar. Ketua Koperasi Produsen Persatuan Nelayan Airnyatoh Asbaru mengaku, kondisi laut saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini terjadi dia duga sejak beberapa unit kapal isap beroperasi di Sungaibuluh.
“Setahu kami kapal isap yang berada di perairan Bembang, Desa Sungaibuluh, Kecamatan Jebus itu sudah beroperasi sekitar satu sampai dua minggu lebih. Sejak ada kapal isap itu, limbah atau endapan lumpur masuk ke perairan kita,” ujarnya, Senin (2/6/2025) pagi.
“Sejak saat itu pula, hasil tangkap kami para nelayan jelas berkurang. Lumayan merosot dari sebelumnya, sebelum ada aktivitas kapal isap di Bembang itu,” tambah dia saat dikonfirmasi di pesisir Pantai Desa Airnyatoh didampingi oleh belasan nelayan setempat.
