Pesan Hati-Hati (44 Macam Gila)
Ukurannya adalah orasinya baru selesai dan bubar bila sudah ada peserta yang jatuh pingsan. Entah karena tak kuat berdiri lama atau tak tahan lagi dan hampir muak mendengar ceramah teman saya ini. Yang membuat resah lagi adalah ia mulai berlagak jadi komandan beneran. Ia harus mempunyai ajudan.
Maka terpaksalah stafnya yang tak berani membantah menyeleksi para karyawan kantornya yang cocok untuk jabatan ajudan tersebut. Terpilihlah seorang wanita pesilat yang pernah ikut kejuaraan di kampungnya. Wajahnya manis, cekatan dan pandai menggunakan computer. Belakangan ternyata seorang ajudan masih belum cukup. Maka direkrut lagi seorang ajudan yang lain. Yang ini agak di luar mainstream.
Orangnya pendiam, tapi jago kumputer dan punya ilmu menghilang bila banyak tugas. Laporan para satpam di kantor teman saya tadi ternyata sejak ia jadi kepala sekolah, sudah empat orang sopir yang dipecatnya dengan berbagai alasan. Mulai dari gugur di tes kecantikan alias kegantengan dan penampilan sampai sering main HP bila sedang kerja.
Ada pula yang dipecatnya karena terlibat judi dan pinjaman online. Maka jadilah sekarang yang bertugas sebagai pilot teman saya ini seorang anak muda yang tampilannya mirip bintang film Korea. Kulit kuning, rambut lurus, tegas tapi banyak senyum. Sepertinya memenuhi syarat untuk menjadi detektif dalam sinetron TV kegemaran para ibu-ibu kita.
Para satpan kantor itu lalu bertaruh. Berapa lama kira-kira anak muda bintang film ini akan bertahan sebagai pilot atasannya. Ternyata hanya hitungan bulan ia mampu bertahan.
Pemborong bukan ambtenaar
Oh ya salah satu manuver cantik yang dibuat teman kita ini adalah memborong pekerjaan. Anda jangan salah sangka. Memborong disini bukanlah mengerjakan proyek alias ambtenaar sebagaimana yang dibayangkan. Ia hanya memborong dalam arti mengerjakan hampir semua tugas-tugas rutin yang ada dikantornya.
Karena kantornya mirip sekolah maka tugas-tugas seperti mengajar, menghapus papan tulis, menguji, mengevaluasi, mengoreksi soal, melakukan penilaian, membimbing bahkan bila mungkin memandikan peserta yang ikut sekolah disana. Motifnya yang jadi menarik. Semua pekerjaan tadi ternyata ada honor alias bayarannya.
Sayangnya Ketika dilakukan pemeriksaan oleh auditor dari kantor lain yang tak bisa dibujuk rayu olehnya, ditemukanlah sejumlah kesalahan tadi. Maka terpaksalah kawan kita ini harus mengembalikan sebagain besar bayaran honor berjumlah puluhan juta rupiah yang selama ini telah diambilnya.
Sayangnya lagi karena terlalu bernafsu dan grasa grusu teman saya ini terpeleset. Ia dianggap pimpinan sebagai pejabat yang tak tahu diri. Gara-garanya ia tanpa disangka-sangka berkirim surat ke pemerintah pusat mengatas namakan pimpinannya.
Padahal ia tak pernah meminta izin atau memberitahukan pimpinannya terlebih dahulu, seperti kelaziman, etika dan tata krama yang biasanya berlangsung. Entah apa yang ada di benaknya. Peristiwa serupa dilakukannya tak cukup sekali.
Tak pelak lagi ia mendapatkan teguran. Dianggap ingin mengambil alih kendali pemerintahan. Mirip makar. Dan kalau hal seperti itu terjadi di Korea Utara maka dapat dipastikan teman saya ini sudah dihukum tembak dengan roket.
Hebatnya teman kita ini tetap bersikukuh bahwa ia tak pernah melakukan kesalahan. Bahkan dengan gagah berani ia menganggap dirinyalah yang menjadi korban. Kucing mengeong tikus berlalu. Mirip adegan di sinetron Haji Bolot yang tak pernah mendengar omongan orang lain. Kecuali hal yang memang ingin didengarkannya.
Karena itu para karyawan di kantornya lalu bersiap-siap memberikan gelar baru kepada teman saya tadi. Gelarnya adalah gila…. (Anda isi sendiri titik-titik ini). Tapi saya yakin gelar yang disiapkan oleh para anak buahnya ini pastilah ada di antara 44 macam gila seperti yang pernah ditulis Andrea Hirata.
Anak dari Desa Gantung Pulau Belitung ini juga pernah menulis seperti ini: “Itulah penyakit kalian, orang Melayu. Terlalu manja, banyak teori kiri kanan, ada sedikit harta, ada sedikit ilmu, sudah sibuk bersombong-sombong….” (Andrea Hirata).
Kalau untuk teman saya tadi mungkin kutipan tulisan Andrea ini yang agak pas: “Aku telah mengidap sakit gila nomor enam belas: yakni penyakit manusia yang membuat dunia sendiri dalam kepalanya, menciptakan masalah-masalahnya sendiri, terpuruk di dalamnya, lalu menyelesaikan masalah-masalah itu, sambil tertawa-tawa, juga sendirian.” (Andrea Hirata, Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang).
Tetapi agar kita setidaknya masih dalam kewarasan mari kita simak apa yang disampaikan oleh ahli filsafat dari UIN Yogyakarta Dr Fahrudin Faiz yang sekarang jadi menarik dan banyak viral di media sosial. Ini sebagai pesan untuk berhati-hati.
“Jika engkau tinggal bersama sama orang tidak waras,
menjadi waras adalah berbahaya.
Kalau hidup bersama orang gila menjadi waras itu berbahaya.
Jika engkau tinggal di rumah sakit jiwa,
meskipun tidak gila setidak- tidak nya berpura-pura lah gila.
Kalau tidak orang orang gila itu akan membunuh mu.
Ini pesan untuk hati hati.
Jangan-jangan banyak orang gila sekarang di sekeliling kita.
Kalau pingin selamat pura-pura lah gila”.
Salam Takzim.
