Jalanan yang ramai tak aku pedulikan. Sepedaku masih tetap melaju tanpa terganggu dengan padatnya arus jalanan. Sampai beberapa kali aku menyalip motor yang ada di depanku dan sampai di sekolah tepat waktu.

5 menit lagi!

Iiiits… rem sepedaku bergesek ke velg roda. Aku sampai tepat waktu sampai di parkiran sepeda. Kulihat Pak Wagiman, guru piket hari ini, baru berjalan menuju gerbang. Yes, hari ini aku sukses besar meski harus kehilangan waktu mandi yang berharga.

Ketika aku sampai di kelas, semua mata tertuju padaku. Lebih tepatnya pada hidungku. Kucoba meraba batang hidungku, aku begitu terkejut. Hidungku telah berputar 180 derajat. Kini ia mancung.

Sebenarnya aku benar-benar syok mendapati diriku tiba-tiba mancung seperti ini. Bertahun-tahun aku menjalani hidup sebagai orang pesek dan hari ini, aku mancung.

Mungkin ini adalah pemakbulan doaku kemarin sore. Kau tentu tahu apa yang aku minta pada Tuhan ketika tanganku memegang hidung. Aku malu menyebutkannya.

Seluruh sekolah heboh. Mulai dari teman-teman, guru-guru sampai kepala sekolah, semuanya berbondong-bondong mendatangiku guna melihat apa yang sebenarnya terjadi padaku.

“Waaw, luar biasa. Bagaimana bisa kau menjadi seperti ini, Joy? Cepat, katakanlah apa rahasiamu.” Selidik Juan yang terobsesi pada detektif conan itu padaku.

Pertanyaannya itu membuat setiap orang yang mengelilingiku menyiapkan daun telinganya untuk mendengarkan perkataan yang akan keluar dari mulutku. Hal ini karena kata yang akan keluar kelak adalah sebuah resolusi hidup bagi mereka.

Aku dilanda dilema. Apakah aku harus mengatakan bahwa ini keajaiban, akan tetapi ditertawakan mereka yang tak pernah mempercayaiku ataukah menutupi apa yang terjadi sebenarnya dengan membohongi mereka bulat-bulat agar aku tak ditertawai.

Baca Juga  Ibu, Anugerah Tuhan yang Terindah

Setelah mempertimbangkan, kuhela napas panjang. Semoga ini pilihan yang terbaik.

“Pakai salep Aspiga.” Kataku pucat. Itulah salep pemancung hidung yang aku lihat di internet beberapa waktu yang lalu.

Mereka pun langsung percaya dengan menunjukkan berbagai macam ekspresi. Ada yang manggut-manggut tanda paham, melongo takjub sampai berdzikir.

Tetapi ekspresi khas ditunjukkan teman-temanku yang masih tergolong pesek. Mereka berjingkrak-jingkrak bahagia. Inilah titik tombak perubahan besar dalam hidup mereka.

Hal yang mereka cita-citakan selama ini telah sampai di depan mata. Tinggal memilih mau atau tidak. Dengan sumringah, mereka menggenggam tanganku sebagai tanda terima kasih.

Sehabis pulang sekolah, aku melintasi apotek terlengkap seantero Toboali, kini ramai dijejali dengan orang-orang pesek yang ingin membeli salep Aspiga. Mereka hendak menunaikan saranku tadi. Bagi mereka, inilah saatnya menggapai impian, menjadi mancung. Setidaknya, memiliki hidung seperti orang pada umumnya. Aku sangat memahami apa yang mereka rasakan saat ini.

Jujur aku sangat menyesal tengah mendustai mereka. Pikiranku kacau balau. Jangankan membaca buku, membukanya pun aku tidak bisa. Kalau pun bisa, pasti sudah kurobek, saking cemasnya.

Aku takut hal-hal aneh menimpa hidung mereka. Siapa yang tahu kalau hidung iritasi, bengkak, atau bahkan tidak bisa mengupil karena lubang hidung yang membengkak sehingga harus diamputasi untuk mengeluarkan tahi hidung yang telah menumpuk di dalam. Astaga, benar-benar mengerikan. Tapi aku diam saja. Semua telah terjadi akibat ketololanku sendiri.

Aku juga heran kenapa mereka langsung percaya padaku. Biasanya, mereka jarang percaya karena pemikiran mereka tentang suatu hal dirasa lebih baik ketimbang diriku. Ah, inilah efek mengerikan dari pesek. Orang tak kuat iman bisa runtuh karenanya.

Berhari-hari memakai salep Aspiga, orang pesek berang. Tak terjadi perubahan apapun pada hidung mungil mereka. Jangankan mancung, diameter lubangnya saja tak melebar sesenti pun. Malahan hidung mereka memerah.

Baca Juga  Kumpulan Puisi Cinta yang Menyentuh Hati

Berapa utusan orang pesek menanyakan kredibilitas salep tersebut. Aku hanya bisa diam. Bagaikan Sun Go Kong dalam batu. Tak bisa berbuat apa-apa sambil mengutuk diri sudah berbohong. Apoteker kelabakan. P

ara orang pesek menuntut pengembalian uang terhadap salep Aspiga tetapi tak digubris apotek. Massa pun berontak dan mengobrak-abrik semua isi apotek. Kasihan sekali melihat apoteker. Tak dapat melawan massa yang berjumlah banyak.

Sebenarnya ada dua kemungkinan bagi apotek itu. Kalau obat itu benar-benar dapat memancungkan hidung, maka apotek akan disanjung setinggi bulan tanggal 15. Tinggi, bulat sempurna, dan terang menerangi kegelapan malam. Tapi nahas, ia mendapat pilihan kedua. Dihajar massa.

Tiba-tiba gerombolan orang pesek mengejarku saat duduk di teras rumah. Mereka merasa tertipu sekaligus iri dengan hidungku. Aku langsung meloncati pagar, berlari terbirit-birit membawa hidung yang kurasa makin membesar jika dibawa berlari. Semakin cepat aku berlari, maka semakin besarlah hidungku. Sampai-sampai aku harus membopongnya dengan tangan agar tidak jatuh ke tanah.

Sementara orang pesek yang sedang mengejarku membabi buta bak koloni macan Afrika sedang mengejar rusa. Kencang, terorganisir, dan sangat jitu membidik misi. Sementara aku yang membopong hidung, atau lebih tepatnya belalai, semakin lambat karena belalai yang sangat berat dan tenaga nyaris habis.

Sampai pantai, aku terpojok di batu granit yang hitam besar. Semua massa telah mengepungku, melihat dengan tatapan penuh dendam dan kekesalan. Aku pasrah menunggu detik-detik kematianku ini. Ternyata beginilah akibat berbohong.

Tidak akan memberikan keuntungan. Berbohong laksana menyimpan durian dalam lemari. Lambat laun bau menyengatnya akan tercium juga dan kali ini, akulah juragan duriannya. Siap diserbu pelanggan karena menyembunyikan durian yang seharusnya mereka konsumsi.

Baca Juga  Penjaga Terumbu Karang

Tiba-tiba dari arah massa orang pesek, muncul anak panah besar melesat ke arahku dan tepat menghujam bagian jantungku. Dadaku ngilu. Tak kuasa kutahan tegak badan sampai jatuh tersungkur bersimbah darah.

Kepalaku membentur tempurung kura-kura yang seharusnya tidak ada di situ. Sakit sekali rasanya. Lalu pelan-pelan, kuhembuskan nafas terakhir dan mati membawa penyesalan tiada tara.

Aku beranjak dari tempat tidur dengan keringat membasahi tubuh. Bagiku itu mimpi paling mengerikan yang pernah kualami. Untung saja hanya mimpi. Seandainya mimpi jadi kenyataan, maka aku akan menemui ajalku karena masalah hidung orang. Mati konyol, su’ul khotimah.

Lalu kuraba hidungku. Masih pesek melekat di mukaku. Tidak mancung sedikitpun.Tak henti-hentinya kuucapkan alhamdulillah. Waktu pun masih jam setengah lima pagi. Sebagai rasa syukur, aku langsung menunaikan salat Subuh.

Saat berwudhu, kubasuh wajahku dengan air suci nan menyejukkan. Kubasahi hidungku dengan penuh kelembutan. Kutahu hidung ini tidak sesempurna orang lain, tapi dengan mensyukuri kekurangan, aku dapat menikmatinya.

Selesai salat, aku bercermin melihat hidungku. Tapi aku terkejut. Bukan pada hidungku, tapi pada benjolan di atas kepalaku. Haduh, ternyata aku mengigau sewaktu mimpi membentur tempurung kura-kura.

Pantas saja kepalaku terasa lebih sakit daripada jantung yang tertancap anak panah. Mungkin waktu mengigau, aku menyundul palang kayu dipan tempat tidur.

Ya sudah, yang penting aku masih hidup. Soal hidung, tidak kuhiraukan lagi. Pesek dan mancung sama saja. Setidaknya aku masih bisa hidup tenang.

Pemali, 10 September 2013.