“Harus ada segmentasi usaha yang saling melengkapi, mulai dari penyediaan benih dan pakan, hingga pengolahan dan pemasaran. Karena itu, saya berharap semua stakeholder dapat bersinergi dan berkolaborasi, agar usaha ini dapat terus berkelanjutan,” ucapnya2.

Sementara itu, Kepala UPTD Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Bangka Tengah, Hermanto, menjelaskan bahwa Instalasi Jelutung telah mengantongi sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) khusus untuk komoditas gurami dan telah menjalankan budidaya sejak dua tahun terakhir.

Menurut Hermanto, kebutuhan ikan gurami konsumsi di Provinsi Bangka Belitung saat ini cukup besar.

“Permintaan ikan gurami konsumsi saat ini mencapai 2 hingga 3 ton per bulan. Namun sebagian besar pasokan masih didatangkan dari luar daerah karena produksi lokal belum mencukupi. Untuk pembenihan, idealnya tersedia 3.000 hingga 6.000 ekor benih setiap bulan agar usaha budidaya gurami tetap berkelanjutan. Karena itu, kami melakukan diversifikasi usaha,” paparnya.

Baca Juga  Era Terpilih sebagai Wabup Bateng, Algafry: Saya Siap Bekerja Sama

Diversifikasi usaha yang dilakukan UPTD mencakup penjualan telur, larva, benih ukuran kuku, hingga benih ukuran silet, agar siklus pembenihan bisa dipercepat dan panen bisa dilakukan dalam waktu lebih singkat.

“Biasanya butuh waktu tiga bulan untuk menghasilkan benih ukuran 3–4 cm dengan harga sekitar Rp2.000 per ekor. Namun, dengan diversifikasi, telur bisa dipanen setiap minggu dan langsung dijual. Telur ikan gurami dari luar saja harganya Rp120 per butir, dengan tingkat keberhasilan rendah. Maka ini peluang besar bagi masyarakat untuk terlibat di semua segmen,” ungkap Hermanto.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar sebagai langkah strategis menjaga ketersediaan pangan dan mengurangi ketergantungan pada ikan laut, yang harganya fluktuatif.

Baca Juga  LPG Langka, DisperindagkopUKM Bangka Tengah Peringatkan Pangkalan Jangan Nakal