Keberkahan bagi Para Pengasuhnya
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 5)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Setelah Nabi Muhammad Saw disusui oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab yang juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthallib, tibalah saatnya bagi bayi-bayi Quraisy dibawa ke pedesaan untuk diasuh oleh perempuan-perempuan dari Bani Sa’ad.
Seorang perempuan miskin bernama Halimah as-Sa’diyah datang dari perkampungan Bani Sa’ad, bersama suami dan bayi mereka yang masih kecil. Mereka mencari keberuntungan, berharap mendapatkan anak susuan dari keluarga terpandang. Namun, semua wanita enggan mengambil bayi Muhammad karena ia yatim. Tidak ada ayah berarti tidak ada imbalan besar.
Tetapi Halimah, dalam keterpaksaan dan keyakinan yang samar, berkata pada suaminya, “Aku tidak suka kembali tanpa membawa seorang bayi.” Akhirnya, ia mengambil Nabi Muhammad Saw sebagai anak susuan. Dan sejak itu, kehidupan mereka berubah.
Dalam kitab Maulid Al-Barzanji, Syekh Ja’far Al-Barzanji menulis:
فَأَخْصَبَ عَيْشُهَا بَعْدَ الْمَحْلِ قَبْلَ الْعَشِيَّةِ
“Maka kehidupan Halimah yang sebelumnya sempit kemudian menjadi lapang bahkan sebelum menjelang sore.”
Diceritakan, unta betina yang sebelumnya tidak menghasilkan susu tiba-tiba penuh air susunya. Keledai yang mereka tunggangi menjadi lebih cepat daripada kendaraan kafilah lain. Ladang yang sebelumnya tandus, tiba-tiba menghijau. Hewan ternak menjadi sehat dan gemuk. Semua orang kampung Halimah sampai berkata, “Iringi ternak kalian sebagaimana iringan ternak Halimah!”
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Madarijus Su’ud juga menuliskan hal serupa. Keberkahan demi keberkahan meliputi rumah tangga Halimah. Betapa mengasuh sang Nabi adalah kehormatan agung yang membawa keberlimpahan, bahkan sebelum Halimah tahu siapa sebenarnya bayi kecil yang tengah ia gendong.
Mengasuh Nabi di Zaman Ini?
Apa maknanya bagi kita hari ini? Apakah cukup bagi kita hanya mengagumi kisah keberkahan yang menyelimuti Halimah?
