Setelah itu
semua kembali seperti semula
rumah sakit yang penuh dan sesak
sekolah yang tak bermutu dan rusak
harga ikan yang tak masuk akal
tambang yang menghancurkan tanah
dan menyisakan kolong-kolong penuh nyamuk
sementara suara kami menghilang
bersama sisa logistik kampanye
yang hanya menyisakan bendera robek
di tiang bambu rapuh

Kami yang di pinggir
kami yang tak punya suara keras
hanya belajar diam dari sejarah
Karena saat kami bersuara
suara itu pecah
di meja rapat yang tak pernah terbuka
di ruang birokrasi yang penuh protokol
di telinga yang hanya peka
pada bisik investor dan elite lokal

Dan kini
ketika Pilkada ulang mengetuk lagi
semua berpura-pura lupa
bahwa kami belum sembuh
dari luka lima tahun yang lalu

Baca Juga  Kotaku Tanpa Naungan

Tapi entahlah
mungkin ini memang takdir kami di sini
di Bangka dan Pangkalpinang
di mana rakyat kecil seperti kami
selalu diingat saat butuh
lalu dihapus pelan-pelan
dalam lembar rencana pembangunan
yang tak pernah menyebut nama kami