Masyarakat juga memegang peran penting. Edukasi tentang bagaimana bersikap saat bertemu satwa liar perlu disebarkan. Anak-anak sekolah perlu dikenalkan pada pentingnya menjaga hutan dan sungai. Petani perlu didukung agar bisa bercocok tanam tanpa harus membuka hutan baru. Pemerintah bisa bekerja sama dengan kelompok pemuda, komunitas lokal, dan tokoh adat untuk menyebarkan pesan ini.

Selain itu, kita butuh penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan. Jangan sampai tambang ilegal terus berjalan tanpa kendali, sementara masyarakat jadi korban.

Konflik dengan satwa dan bencana alam bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga masalah kemanusiaan. Ketika sawah terendam banjir, ketika anak-anak tidak bisa sekolah karena jalan putus, ketika satwa dibunuh karena dianggap mengganggu semua itu adalah tanda bahwa keseimbangan sudah rusak.

Baca Juga  Bukan Sulap Bukan Sihir: Jangan Biarkan Pangkat Anda "Mati Suri" oleh Kelalaian Sendiri

Kita tidak bisa terus menyalahkan satwa, menyalahkan hujan, atau menyalahkan nasib. Alam memberi tanda-tanda. Tinggal apakah kita mau mendengarkan atau tidak.

Bangka Barat punya potensi luar biasa. Hutan, laut, tambang, dan sumber daya manusianya bisa saling mendukung jika dikelola dengan bijak. Tapi semua itu akan sia-sia jika kita membiarkan konflik ini terus berulang.

Menjaga lingkungan bukan soal memilih satwa atau manusia. Ini soal menjaga ruang hidup bersama, agar semua makhluk termasuk kita bisa bertahan dan hidup dengan layak.

Sudah saatnya Bangka Barat tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam menjaga alam.