Ketika Satwa Liar Muncul di Permukiman: Bencana Mengintai di Belakang Rumah

Oleh: Esha Agustina — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Belakangan ini, masyarakat Bangka Barat semakin sering mendengar kabar kemunculan buaya di sungai dekat rumah, babi hutan yang merusak kebun, dan monyet yang mencuri hasil pertanian. Di sisi lain, banjir dan longsor juga makin sering terjadi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Jawabannya tidak jauh-jauh ialah kerusakan lingkungan. Hutan yang dulu menjadi rumah bagi satwa liar kini berubah jadi tambang, kebun, atau permukiman. Sungai yang dulunya jernih kini tercemar limbah dan lumpur dari aktivitas tambang. Ketika habitat mereka rusak, satwa tidak punya pilihan lain selain mendekati manusia untuk mencari makan dan tempat hidup. Sementara itu, alam yang rusak juga tidak mampu lagi menahan air hujan, hingga banjir pun menjadi langganan.

Baca Juga  Pespektif Ilmu Hukum atas Gagalnya Pengendalian Gas LPG 3 Kg bagi Masyarakat Bangka Belitung

Bangka Barat bukan satu-satunya daerah yang menghadapi masalah ini, tetapi tekanannya cukup besar. Aktivitas tambang timah, baik legal maupun ilegal, telah mengubah lanskap banyak wilayah, khususnya di kecamatan Jebus, Parittiga, Tempilang, dan sekitarnya. Lubang-lubang bekas galian yang tidak direklamasi dibiarkan menganga, menyebabkan longsor saat hujan dan menjadi sumber penyakit saat musim kemarau.

Konflik antara manusia dan satwa liar, serta bencana alam yang datang berulang kali, seharusnya tidak kita anggap sebagai hal biasa. Ini adalah peringatan keras bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dengan alam.

Sayangnya, respons terhadap situasi ini masih minim. Banyak yang masih berpikir bahwa jika satwa muncul, solusinya adalah menangkap atau membunuh. Padahal, masalah utamanya bukan di satwanya, tapi di manusianya yang merusak rumah mereka. Sama halnya dengan banjir, selama pohon ditebang dan tanah dikeruk, air hujan akan tetap meluber ke permukiman.

Baca Juga  Pilkada Ulang di Bangka Belitung: Momentum Mengembalikan Kepercayaan Publik

Apa yang bisa kita lakukan? Banyak. Pemerintah daerah perlu mempercepat pemetaan kawasan rawan konflik dan bencana. Jalur jelajah satwa harus dilindungi. Lubang tambang harus direklamasi. Sungai harus dipulihkan. Ini bukan proyek jangka pendek, tapi harus dimulai dari sekarang.