Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian7)

Oleh: Muhammad Bachtiyar  — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Kehilangan seorang ayah (sejak dalam kandungan) lalu disusul kehilangan ibu di usia yang sangat belia adalah suatu pengalaman yang sangat berat, bahkan bagi seorang anak yang kelak akan menjadi seorang nabi.

Rasulullah Saw, pada usia enam tahun, merasakan kehilangan yang mendalam ketika ibunda tercinta, Aminah, meninggal dunia di perjalanan pulang dari Madinah. Kejadian ini tidak hanya meninggalkan luka batin, tetapi juga menandai babak pertama dalam perjalanan hidup beliau yang penuh ujian dan cobaan.

Namun, meskipun kehilangan tersebut sangat berat, Nabi Muhammad Saw tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa, dengan ketangguhan jiwa yang tidak terbayangkan. Pengalaman ini memberi pelajaran penting tentang psikologi anak yatim dan bagaimana ketangguhan bisa tumbuh meskipun dihadapkan dengan kesulitan dan trauma yang mendalam.

Baca Juga  PKS Dukung Anies Baswedan Pada Pilpres 2024, Boy Karolta: Kami Ikut Arahan Pusat

Perjalanan ke Madinah dan Kehilangan Ibunda

Pada saat itu, Aminah membawa anaknya yang masih kecil dalam perjalanan menuju Madinah, untuk mengenalkan Rasulullah Saw pada keluarga besar yang ada di sana.

Madinah (yang saat itu dikenal dengan nama Yastrib) adalah tempat yang penuh kenangan bagi keluarga Nabi, dan perjalanan ini merupakan bentuk kasih sayang seorang ibu.

Perjalanan ini juga dapat dipahami sebagai upaya untuk menjaga ikatan silaturahim dengan keluarga besar. Ayahnya, dahulu meninggal di Yastrib, di antara perjalanan dagangnya menuju Syam.

Kakeknya, Abdul Muthalib -yang bernama asli Syaibah- adalah putra asli dari Yatsrib. Sehingga keluarga besar dari jalur ayah dan kakeknya berada di Yastrib.

Baca Juga  Dibesarkan Kakek dan Paman, Sebuah Kolaborasi Pengasuhan

Namun, suratan takdir berkata lain, dan ibunda yang sangat mencintai putranya harus meninggalkan dunia sebelum dapat melihat putranya tumbuh besar. Di tengah perjalanan pulang kembali dari Yatsrib untuk menuju Makkah, tepatnya di daerah Abwa, sekitar 100 km dari Makkah, Aminah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Kepergiannya meninggalkan Muhammad kecil tanpa sosok ibu, di saat ia baru belajar mengerti arti kasih sayang seorang ibu. Abwa,  menjadi tempat berakhirnya kisah perjalanan ibunya. Dari sana, Rasulullah Saw harus melanjutkan hidup tanpa didampingi ibunda tercinta, yang meninggalkan bekas mendalam dalam kehidupannya.

Ketangguhan Psikologi Anak Yatim

Kehilangan ibu di usia yang sangat muda tentu meninggalkan bekas dalam jiwa anak. Namun, dalam perjalanan hidup Rasulullah Saw, kita melihat ketangguhan yang luar biasa.

Baca Juga  KPU Pangkalpinang Resmi Melantik 35 Panitia Pemilihan Kecamatan

Meskipun beliau kehilangan ibu pada usia sangat muda, Muhammad Saw tetap tumbuh dengan penuh semangat, kebijaksanaan, dan kebaikan hati. Ketangguhan jiwa ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kasih sayang dari pengasuh-pengasuh beliau serta lingkungan yang mendukung.

Psikologi anak yatim mengajarkan kita bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua, terutama ibu, memiliki kecenderungan untuk merasa cemas, kehilangan rasa aman, dan mungkin bahkan rasa rendah diri.