Membangun Kembali Palestina
Oleh: M. Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an Cahaya, Toboali
Sejarah sering berulang, hanya wajahnya yang berganti. Bagi bangsa Indonesia, kisah perjuangan Palestina hari ini seolah membuka kembali lembar-lembar lama dari masa ketika negeri ini juga berjuang mempertahankan hidupnya.
Kita pernah menjadi bangsa tanpa kepastian, berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar, terisolasi, dan di ambang keputusasaan. Tetapi seperti halnya rakyat Palestina hari ini, kita juga bertahan. Kita terus berjuang. Karena masih ada harapan. Masih ada keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak yang tak bisa ditawar.
Dalam konteks Palestina, Peristiwa Thufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 bukan sekadar ledakan perlawanan bersenjata. Ia menjadi gema sejarah, pengingat bahwa penjajahan tidak pernah bisa memadamkan semangat sebuah bangsa. Mereka terus melawan. Terus berjuang untuk kemerdekaan mereka.
Penjajahan atas Palestina bermula pada tahun 1917, ketika kekuasaan Kekaisaran Utsmaniyah berakhir dan Inggris mengambil alih wilayah itu melalui Mandat Liga Bangsa-Bangsa.
Pada tahun yang sama, lahirlah Deklarasi Balfour, janji sepihak Inggris untuk mendirikan “tanah air bagi bangsa Yahudi” di tanah yang telah berabad-abad dihuni oleh bangsa Arab Palestina. Dari sinilah gelombang imigrasi Yahudi besar-besaran dimulai, menggeser penduduk asli dari tanahnya sedikit demi sedikit.
Tiga puluh satu tahun kemudian, tepatnya 1948, Inggris mundur dan gerakan Zionis memproklamasikan berdirinya Negara Israel. Sehari setelahnya, pecah perang besar dengan negara-negara Arab yang berujung pada tragedi Nakba.
Pengusiran lebih dari tujuh ratus ribu rakyat Palestina dari rumah mereka dan penghancuran ratusan desa. Sejak saat itu, Palestina kehilangan sebagian besar wilayahnya dan rakyatnya hidup dalam pengungsian, menandai awal dari penjajahan modern yang masih mereka rasakan hingga hari ini.
Dari Yogyakarta ke Gaza
Kembali membahas Thufan Al Aqsa, dalam banyak hal, peristiwa itu menyerupai Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Ketika pasukan Indonesia yang terdesak oleh agresi Belanda justru menyerang balik, menguasai kota selama enam jam, dan mengguncang dunia. Dunia yang semula mengira Republik sudah runtuh tiba-tiba tersadar. Indonesia masih ada.
Begitu pula dengan Palestina. Dunia mungkin sempat mengira perjuangan mereka telah meredup, namun Thufan Al-Aqsa menunjukkan bahwa semangat itu belum padam. Seperti Yogyakarta bagi kita, Gaza menjadi saksi bahwa keberanian, meski dikepung dari segala arah, masih mampu menyalakan cahaya di tengah gelapnya penjajahan.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kemenangan sesungguhnya tak selalu datang di medan perang. Setelah Yogyakarta direbut, penderitaan belum selesai.
Rakyat tetap hidup dalam tekanan, pertempuran masih berkecamuk, dan diplomasi menjadi medan yang tak kalah berat. Begitu pula dengan Palestina. Setelah Thufan Al-Aqsa, dunia menyaksikan tragedi kemanusiaan terbesar di abad modern. Gaza luluh lantak, ribuan anak menjadi yatim, dan jutaan orang kehilangan rumah.
Genosida yang dilakukan Israel bukan hanya serangan fisik, tapi juga upaya mematahkan semangat hidup. Namun seperti bangsa Indonesia dulu, rakyat Palestina memilih untuk tetap berdiri. Mereka mungkin tak lagi punya kota yang utuh, tapi mereka masih punya kehendak untuk hidup, dan itu yang paling menakutkan bagi setiap penjajah.
Dari reruntuhan Gaza, dunia justru melihat kebangkitan nurani. Demonstrasi besar-besaran muncul di berbagai belahan dunia. Dari London, New York, hingga Jakarta serta ratusan kota lainnya di seluruh dunia, lautan manusia meneriakkan satu kata yang sama. Free Palestine! Bebaskan Palestina.
Di sisi lain, gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) semakin luas, menjadi bentuk perlawanan moral terhadap kekuasaan yang menindas. Tidak hanya digerakkan oleh aktivis muslim saja, tapi dilakukan semua kalangan yang peduli dengan kemanusiaan. Bahkan tak sedikit mahaiswa di berbagai kampus di seluruh penjuru dunia yang menyuarakan teriakan mereka di kampusm bahkan di panggung wisuda mereka sendiri.
Di Sidang Umum PBB terakhir, 142 negara mendukung resolusi yang mendukung kemerdekaan Palestina dan 10 negara menolak. Praktis, negara yang menolak selain Amerika dan Israel serta Argentina adalah 7 negara kecil kepulauan yang selama ini memang memiliki “ketergantungan” terhadap Amerika.
Dukungan sebesar itu menunjukkan bahwa mayoritas dunia berdiri bersama rakyat Palestina. Dukungan itu mengingatkan kita pada masa ketika Indonesia juga berdiri di ambang keputusasaan, lalu menerima uluran tangan dunia yang percaya bahwa kemerdekaan kita sah dan layak diperjuangkan.
