Iman dan Ilmu
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum UAD
Bisa jadi membahas masalah iman dan ilmu itu nampak tidak menarik, karena sudah sangat sering dilakukan orang terutama dalam forum organisasi Islam atau majelis pengajian.
Namun, tentu saja perkara sebesar dan sepenting itu harus selalu kita “aktualkan” tanpa rasa bosan, sebab persoalanya yang tidak pernah habis dikaji, didiskusikan.
Kali ini kita dapat memulai kajian dengan mengutip firman Ilahi sebagaimana banyak dilakukan para ustaz, mubaligh dan para kalangan kampus: “…Allah mengangkat mereka yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi karunia ilmu pengetahuan ke berbagai tingkat (derajat) “QS. al Mujadalah/59:11).
Firman Allah SWT itu menegaskan bahwa, janji keunggulan, superioritas dan supremasi diberikan Allah kepada mereka yang beriman dan berilmu sekaligus.
Iman akan mendorong kita (terjaga) untuk selalu berbuat baik guna mendapatkan rida Allah, dan ilmu akan melengkapi kita dengan kemampuan menemukan cara yang paling efektif dan efisien dalam pelaksanaan (motivasi) untuk melakukan perbuatan baik itu.
Dengan lain perkataan, iman mendidik kita untuk mempunyai komitmen kepada nilai-nilai mulia, luhur, dan ilmu memberi kita kecakapan (kepiawaian) teknis guna merealisasikannya.
Ringkasnya, iman dan ilmu jika disinergikan akan membuat kita menjadi orang baik dan sekaligus tahu cara yang tepat (efisien dan efektif) mewujudkan kebaikan kita itu. Dari sini menjadi jelaslah bahwa, mengapa iman dan ilmu merupakan jaminan keunggulan dan superioritas.
Kalau kita benturkan dengan fenomena, apakah dalam politik, ekonomi, hukum, teknik, budaya atau apapun sangat jamak ditemui orang gagal men-sinergikan iman dan ilmu itu. Akibatnya, antara iman dan ilmu itu menjadi paradoks_iman berjalan sendiri dan ilmu mencari jalan sendiri pula bahkan tak jarang kontradiktif.
Ilmu tanpa Iman
Secara hirarki nilai (etika dan moralitas) masih bisa dikenali bahwa iman adalah primer_hal utama dan ilmu adalah sekunder_pelengkap. Ini bisa dinarasikan: “Lebih baik seorang yang jujur meskipun bodoh daripada seorang jahat meskipun berilmu.” Atau, “lebih baik seorang yang bodoh tapi jujur daripada seorang pandai tapi jahat.”
Sebab kepandaian di tangan orang jahat akan menunjang kejahatannya itu sehingga berlipat ganda dan semakin merusak, seperti terbukti dari kejahatan para koruptor, para mafia atau zionis Israel.
Jika seseorang memiliki ilmu tetapi tidak beriman, kemungkinan yang akan terjadi dia bekerja tapi tidak dilandasi oleh etika. Hal ini dapat menyebabkan penyalahgunaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan pribadi atau bahkan merugikan orang lain.
