Bisa juga seorang yang berpengetahuan, tetapi dia bekerja tidak memiliki tujuan yang bermakna atau tidak dapat memberikan kepuasan batiniah. Hal yang paling jelas, orang tersebut telah terputus dengan nilai-nilai moral dan spiritual yang dapat membantu mereka dalam membuat keputusan dan bertindak.

Iman tanpa Ilmu

Seorang yang beriman tapi tanpa ilmu yang cukup, maka pastilah pemahamannya sangat terbatas. Tanpa ilmu, seseorang mungkin kesulitan untuk berdialog dengan orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda, sehingga dapat menyebabkan kesalahfahaman atau konflik.

Tanpa kedalaman ilmu, seseorang pastilah kesulitan untuk menghadapi tantangan atau masalah yang kompleks, sehingga dapat menyebabkan kesulitan dalam membuat keputusan. Atau dia hanya berpatokan pada dogma atau tradisi tanpa mempertanyakan atau memahami dasar-dasarnya.

Baca Juga  Misteri Hilangnya Bayi dalam Kandungan

Dalam kaitan ini, realitas sering menunjukkan kekalahan seseorang atau kelompok yang baik oleh orang atau kelompok yang jahat jelas bukan karena faktor iman orang atau kelompok yang baik itu, tetapi hanya karena ilmunya yang kurang.

Salah satu wujud nyata peran ilmu ialah, misalnya, kemampuan berorganisasi dan menyusun strategi. Atas dasar itu, ada diktum Arab yang sangat populer, “al-bathil bi-nidham yaghlil al-haqa bi-ghayr nidham”__kepalsuan (kejahatan) yang tersusun rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak tersusun rapi. Sesuatu hal yang amat logis dan masuk akal.

Penutup

Dalam perpektif agama, iman tanpa diiringi ilmu yang cukup akan menimbulkan fanatisme.  Dia akan tidak toleran terhadap orang lain yang memiliki pandangan berbeda.

Baca Juga  Menyoal Keadaban Pemerintahan

Jika iman tanpa ilmu ini berada di tangan seorang pemimpin, maka yang terjadi adalah sikap tiranik (dalam terminologi al Qur’an disebut thughyan_diambil dari kata-kata thaghut) “si Tiran”; adalah sikap yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa memberi peluang kepada orang itu untuk melakukan pertimbangam bebas.

Mengapa begitu? Karena dalam sikap tiranik terselip pandangan, bahwa diri sendiri pastilah benar, dan orang lain pasti salah.

Dalam terminologi Qur’an, jika seorang beriman kepada Allah, berarti memandang diri sendiri sama dengan orang lain, dengan potensi sama untuk benar dan untuk salah.

Maka iman membuat orang menjadi rendah hati atau tawadlu, bersedia melakukan musyawarah (rembukan). Sementara itu, ilmu tanpa iman _dalam bertindak pastilah ia orang yang tak beretika. Dalam setiap perilakunya sering tidak etis atau merugikan orang lain.

Baca Juga  Mottainai Nusantara: Bangun Kembali Harmoni Alam dari Filosofi Jepang dan Warisan Lokal Kita

Dengan demikian, penting untuk memiliki keseimbangan antara iman dan ilmu pengetahuan, sehingga seseorang dapat membuat keputusan yang bijak dan bertanggung jawab.