Membangun Kembali Palestina
Membangun Gaza, Membangun Kemanusiaan
Dalam pusaran diplomasi, setelah berkali-kali dibahas negosisasi damai dan gencatan senjata (lagi-lagi diingkari oleh Israel), hadir Donald Trump yang kembali mendorong skema perdamaian.
Kali ini, menariknya, para pejuang Palestina tidak menolak mentah-mentah. Mereka menerima sebagian isi proposal itu, terutama soal gencatan senjata, pertukaran tawanan, dan pembentukan pemerintahan sementara di Gaza. Tapi mereka juga menetapkan garis tegas: tidak akan pernah menyerahkan haknya untuk bersenjata, menolak demiliterisasi, dan menuntut hak menentukan nasib sendiri secara penuh.
Trump sendiri dikabarkan cukup puas dengan respons itu, bahkan menilai ini bisa menjadi “kesepakatan paling realistis dalam dekade terakhir.” Bagi Palestina, ini bukan sekadar negosiasi politik, melainkan bukti bahwa mereka kini berbicara dari posisi yang lebih sejajar. Mereka tidak lagi memohon, melainkan menegosiasikan hak yang sah atas tanah air mereka.
Perdamaian memang belum terwujud saat ini, tapi fajar harapan kian menyingsing dan meninggi. Kita doakan bersama yang terbaik untuk segera hadirnya kedamaian di Bumi Palestina.
Karena tak ada siapapun yang menyukai hidup dalam suasana penuh ketakutan, kelaparan, dan ancaman bayang kematian yang siap hadir kapanpun bersama deru pesawat tempur, drone dan rudal yang tak kenal henti sepanjang waktu.
Tapi, membangun kembali Palestina tak bisa berhenti di meja perundingan. Pekerjaan terbesar justru ada setelah perang usai. Membangun sekolah untuk anak-anak Gaza, rumah sakit bagi yang terluka, rumah dan pemukiman bagi yang kehilangan tempat tinggalnya.
Terlebih kagi membangun harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya. Dunia Islam secara khusus dan komunitas global pada umumnya punya tanggung jawab moral untuk ikut dalam proses ini. Karena membangun Palestina sejatinya adalah membangun kembali kemanusiaan kita sendiri.
Membayar Utang Sejarah
Dan di sinilah kita, bangsa Indonesia, seharusnya merenung. Palestina bukan negeri yang asing bagi kita. Saat Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan dan belum diakui dunia, Palestina justru menjadi salah satu bangsa pertama yang menyatakan dukungannya.
Seorang saudagar kaya dari Nablus, Muhammad Ali Taher, bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk membantu perjuangan Indonesia. Ia berkata kepada tokoh Indonesia di Timur Tengah, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan kalian.”
Tak hanya itu, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Palestina, juga memperjuangkan agar Liga Arab mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia di forum internasional. Solidaritas itu tulus dan lahir dari keyakinan bahwa kemerdekaan bukan hanya milik satu bangsa, melainkan hak seluruh umat manusia.
Kini giliran kita. Setelah delapan puluh tahun menikmati kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, Indonesia punya tanggung jawab moral untuk membalas budi itu.
Tentu bukan dengan senjata, tapi dengan segala bentuk dukungan nyata. Berdonasi, menyuarakan keadilan, menolak produk penjajahan, dan ikut kampanye BDS. Bahkan doa pun, jika dilakukan dengan kesadaran dan empati, adalah bentuk perlawanan yang tak kalah berarti.
Kita tahu bagaimana rasanya menjadi bangsa yang hampir dilupakan dunia. Kita tahu betapa berharganya solidaritas di saat semua pintu tertutup. Karena itu, membela Palestina bukan sekadar urusan politik luar negeri, tapi panggilan nurani bangsa yang pernah mengalami hal yang sama.
Suatu hari nanti, kita akan melihat Palestina yang merdeka, berdiri di atas tanahnya sendiri, dengan anak-anak yang kembali bersekolah dan langit yang tidak lagi dipenuhi pesawat tempur. Dan ketika hari itu tiba, kita bisa berkata dengan bangga bahwa kita, bangsa Indonesia, pernah berdiri di sisinya. Sebagaimana mereka dulu berdiri di sisi kita.
Karena pada akhirnya, perjuangan kemanusiaan tak pernah mengenal batas bendera. Ia hanya mengenal satu cita-cita. Kebebasan dan kemerdekaan untuk semua.
Mengakhiri tulisan ini, Penulis mengajak pembaca semua untuk turut ambil bagian dalam Gerakan Membangun Kembali Palestina bersama LAZNAS YAKESMA Bangka Belitung. Donasi terbaik dapat disalurkan melalui Bank Muamalat : 37 3008 9999 an Kesejahteraan Madani YYS. Semoga menjadi salah satu catatan dan bukti nyata bahwa kita bersama Palestina.
