Dihilep Antu
Suasana mencekam di sebuah pondok kebun milik keluarga Pak Ugek terlihat jelas.
Tangisan sang istri dan kakak Lalan menambah suasana makin suram.
Pak ugek segera menenangkan istri dan anaknya.
“Insyallah Lalan bisa ditemukan kembali secepatnya,” kata Pak Ugek meyakinkan istrinya.
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti baju, Pak ugek segera melaksanakan salat sunat dan mengumandangkan azan beberapa kali di luar pondok hingga membuat bulu kuduk merinding.
Doa-doa terlafaz dalam hati berniat Lalan kecil bisa ditemukan dalam keadaan selamat.
Hingga Magrib tiba dan lampu teplok dinyalakan, tetiba suara tangisan memecah suasana menjelang malam tiba.
Lalan kecil berjalan menuju pondok kebun dengan tertatih, keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Rasa haru menyambut Lalan yang berlari kecil menghampiri sang ibu.
Tangis haru pecah.
Lalan bercerita bahwa dirinya baru saja diantar oleh seorang nenek tua pulang ke pondok.
Ia menunjuk arah jalan kecil yang tak terlihat sama sekali oleh sang ibu.
“Tadi nenek itu yang mengantar Lalan pulang,” kata Lalan sambil menunjuk arah hutan.
Sunyi, semua terdiam mendengar cerita Lalan.
***
Setelah kejadian tersebut Lalan kecil sering berbicara sendiri di pondok kebun.
Seakan ada seorang teman yang menemaninya bermain.
Hingga tumbuh dewasa Lalan masih saja sering berbicara tanpa lawan bicara yang terlihat oleh orang lain.
Dan hingga ajal menjemput pun Lalan tak sempat untuk berumah tangga sebagaimana pemuda pemuda seusianya.
Karena tingkah laku Lalan sangat berbeda dengan pemuda seusia.
Lalan lebih menyendiri dan mengasing dari keramaian.
Telah beberapa kali orangtuanya berusaha untuk mengobati. Namun karena Lalan telah memakan pemberian dari orang-orang bunian hutan rimba hingga menjadi darah daging, yang membuatnya sulit diobati.
