Kenangan di Balik Pintu Kelas Putih Abu-Abu
“Iya, iya,” sahut Dinda singkat, lanjut lagi membaca bukunya itu.
Meski demikian, siswa XII-1 tahu suara langkah kaki Dinda memang ajaib. Ketika dia melangkah cepat dengan sepatu hitam yang berbunyi ‘tap tap tap’, suaranya mirip banget sama guru yang biasa datang membawa buku tebal. Tak heran, setiap dia muncul di pintu, semuanya refleks panik seperti tikus ketahuan mencuri keju. Namun, ada juga yang asik tidur mimpi indah entah ke mana.
“Gais, lihat tuh, Rido, Rama, dan Krisna, nyenyak bnget, yah, tidurnya, orang bersibuk ria, dia malah enak tidur!” kesal Hendi
“Mungkin mereka lgi mimpi indah itu,” balas Danu dengan tawanya.
Semua siswa ikut tertawa. Namun, semua itu adalah bagian dari kebersamaan yang tak terganti. Setiap harinya selalu ada saja gebrakan kehebohan yang terjadi mulai dari Bangku-bangku belum rapi, colokan sudah rebutan, dan sebagian siswa masih tidur dengan kepala bersandar di lengan. Ada yang makan, bermain uno, gasing, sibuk ngaca, dan beberapa sudah mulai cekikikan.
Waktu bergulir terus begitu cepat hingga perpisahan tiba kala itu. Kelas XII-1 memang dikenal paling berisik seangkatan. Namun, di balik keributan itu, justru paling kompak. Takada yang benar-benar merasa sendiri. Bahkan yang pendiam pun, selalu ditarik dalam lingkaran kebersamaan.
Di balik pintu itu, mereka semua belajar lebih dari sekadar pelajaran sekolah. Belajar bagaimana menangis saat gagal, belajar tertawa saat lelah, dan belajar bangkit saat hampir menyerah.
Terima kasih, kelas XII-1. Untuk kebisingan yang kurindukan. Untuk kebersamaan yang tak terganti. Untuk setiap pagi yang dimulai dengan tawa dan setiap sore yang ditutup dengan harapan.Kamu bukan sekadar ruang.
Kamu adalah kenangan yang akan selalu pulang.
Blitang, 20 juli 2025
