17 Tahun Lalu
Meski saat ini kita bertemu kembali, setelah 17 tahun.
Namun ada garis-garis ruwet mengitari pandangan.
Menutup mata bathin, dalam pusaran keangkuhan.
Kebaikanmu tetap terjaga pada nafas nafas nostalgia.
Menyapa mengulurkan tangan, menutup kepedihan luka lama yang terasa masih pedih.
Kau tetap memberi celah ruang masuk pada pertemuan berikutnya.
Terakhir kita ngobrol menyisir sunyinya kota ini.
Begitu mahir kau kemudikan mobil, sambil ngobrol ngalor ngidul, kenangan lama.
Sungguh peristiwa itu hadir kembali, nyata.
Lalu mengobrak abrik bangunan bathin yang pernah kita susun.
Menenggelamkan segala pikiran nakal.
Sampai lupa membelokan arah mobil ke tujuan semula.
Kau hebat, terlalu tinggi untuk diraih.
Apalagi dijamah bisa muntah muntah.
Ah sudahlah biarkan kenangan itu melayang, seperti layang layang.
Memberi warna pada langit langit impian yang pernah kita singgahi.
Lalu mencatat tentang kisah kebaikanmu pada kesengsaraanku.
Aku hanya butiran debu yang selalu kau usap, dan kau ludahi.
Yogya akhir Juni 2025 dini hari.
