Misteri Tebeng Layfat
Oleh: Yoelchaidir
Joko mendorong gerobak baksonya dengan riang gembira. Sesekali ia bernyanyi kecil. Dagangannya habis terjual dengan cepat pada malam itu.
Ia berkhayal jika setiap malam dagangannya laris manis begini maka akan lebih cepat Joko mengumpulkan uang buat mudik ke kampung halamannya.
Joko dan istrinya sudah hampir 5 bulan merantau ke Toboali.
Mereka belum bisa pulang ke kampung. Uang di tabungannya belum cukup untuk pulang.
Joko tiba rumah kontrakannya, sebuah daerah yang tak jauh dari pantai tepat nya di kampung Padang Toboali.
Wasti sang istri yang kesehariannya berjualan jamu gendong keliling kampung, langsung menyapa sang suami.
“Tumben Mas cepat pulangnya,” sapa Wasti kepada sang suami.
“Apakah jualannya habis, Mas?”
“Atau Masnya yang kurang sehat?”
Wasti mencecar beberapa pertanyaan kepada Joko sang suami.
Pria itu terlihat santai dengan senyum kepada istrinya.
“Alhamdulillah, coba dibuka laci dan hitung hasil penjualan malam ini,” jawab Joko dengan percaya diri yang tinggi.
Joko menyuruh Wasti segera membuka laci uang di gerobak baksonya.
“Apa-apaan Mas bercanda ya,” sambung Wasti yang baru saja membuka laci uang.
Sambil menggenggam daun daun kering dan beberapa helai uang kertas yang diambil Wasti pada laci gerobak bakso sang suami.
“Astaghfirullah….”
“Kenapa jadi begini…?”
“Tadi semua uang saya simpan di laci, lalu kemana uang uang sebanyak itu?” tukas Joko berkata pelan yang hanya terdengar oleh Wasti sang istri.
Mereka berpandangan. Tersirat rasa takut dari kedua wajahnya malam itu.
