Bapak kepala desa itu seketika langsung terdiam lalu pergi bersama beberapa warga lainnya, sementara pak tua, ia hanya menunduk, lalu kembali mengajar esok harinya, seperti biasa.

Tahun demi tahun berlalu dengan begitu cepat meskipun ada lika likunya. Anak-anak yang pernah duduk melingkar di tanah sawah itu dengan bimbingan pak tua, kini banyak yang pergi ada yang jadi guru, bidan, pegawai di kota, dokter, pengacara hingga gubernur. Sebagian kembali membangun kampung, membawa buku, membangun sekolah yang akhirnya diresmikan pemerintah.

Tapi tak pernah sekalipun nama pak tua tak pernah tercatat dalam daftar guru. Ia tak pernah punya NIP, tak pernah mengenakan seragam, apalagi diundang saat peresmian sekolah kampung. Ia hanya berdiri jauh di ujung jalan, tersenyum melihat bangunan berdiri megah, lalu kembali ke gubuknya.

Sampai suatu pagi yang sepi, tubuh itu menyerah tak kuat lagi.

“Ya Allah, apakah ini sudah waktunya diriku pulang, jika sudah panggilah aku dalam sujudmu,” keluhnya berdoa didalam hati dengan meneteskan air mata.

Baca Juga  Kisahku

Badannya sudah mulai melemas/melemah, mulutnya mulai berucap kata” La Ilaha Ilallah.”

Terus menerus ia mengucapkan kalimat itu sendirian,Takada yang menyahut,Takada yang menggenggam tangannya yangada hanyalah tergenggam buku lusuh dan selembar kertas, penuh tulisan.

Matanya sudah mulai terpejam,lalu tubuhnya perlahan diam, jiwanya lepas, tanpa disambut siapa pun. Ke esokan paginya dengan kicauan merdu burung-burung yang berterbangan, anak-anak menemui Pak Tua ingin belajar. Namun, pada saat dibuka pintu, tidak terdengar suara apa pun lagi, anak-anak terus memanggil Pak Tua, mencarinya.

“Bapak, Bapak, Pak, di mana, Bapak?” ujar anak-anak bimbingannya itu.

Berapa menit kemudian salah satu di antara mereka menemukan Pak Tua terbaring di tanah kamar gubuk.

“Teman-teman Bapak disini, ini Bapak,” teriak salah satu anak itu.

Mereka mulai menemui Bapak Tua, mencoba membangunkan nya. Namun, takada suara terdengar lagi,disentuh badannya ternyata sudah kaku tak bernyawa lagi, mereka semua kaget lalu segera meminta tolong warga.

Baca Juga  Bertemu untuk Berpisah

“Tolong, tolong, tolong!” teriak anak-anak itu semuanya.

Para warga beramai-ramai menemui anak-anak bertanya ada apa, mengapa teriak “Ada apa anak-anak?” Tanya Pak Kepala Desa.

“Pak Tua, Pak, Pak Tua, Bapak udah pergi Pak, ia pergi.” Katanya

“Hus, ngawur ya kamu,” sahut Pak Kepala Desa.

Dengan cepat mereka mengecek bapak tua itu dan ternyata bapak memang telah pergi, tapi walaupun pegi tidak tercium bau busuk sekalipun melainkan bau harumnya perjuangan. Bahkan walaupun telah tiada senyumnya… masih tersisa sedikit di sudut bibir, seolah ia pergi dengan tenang.

Tak ada keluarga. Tak ada surat wasiat. Hanya secarik kertas di bawah bantalnya yang bertuliskan:

“Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku ingin anak-anak kampung ini terus selalu belajar, sekolah, bisa membaca namanya sendiri dan sukses di masa depan. Dan Maafkan Bapak tak sempat pamit. Maafkan Bapak tak punya cukup waktu. Tapi tolong… jangan berhenti mengenal impian masa depan karena selama kalian terus belajar, Bapak akan tetap hidup.”

Baca Juga  Tulisan dan Nada

Warga menunduk. Beberapa menangis dalam diam. Tak menyangka, orang yang selama ini disepelekan… telah pergi … dalam sepi. Mereka mulai memandikan pak tua, menyolatkannya, hingga menguburkannya di pemakaman umum, tidak ada batu nisan, hanya papan kecil bertuliskan:

“Untuk sang guru tak bernama, tanpamu, kami mungkin tetap buta huruf, dan mimpi kami takkan pernah mengeja dunia.”

Kini, setiap anak kampung yang menulis, membaca, atau mengajar, selalu memulai kisah mereka dengan satu kalimat yang tak pernah usang:

“Kami pernah diajar oleh seorang guru yang tak dikenal dunia, tapi dikenal oleh seluruh jiwa kami.”

Karena tak semua pahlawan tercatat dalam sejarah. Ada yang hanya hidup di hati, dan pergi membawa air mata seluruh generasi.