Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 11)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Jauh sebelum memimpin peradaban, mengomandoi pasukan, berdakwah kepada umat, atau memutus perkara di hadapan manusia, Nabi Muhammad SAW menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan menggembala kambing. Sunyi, sepi, dan nyaris tak terlihat mulia. Tapi di balik kesunyian padang, tersimpan proses pendidikan jiwa yang dalam.

Tentang fase kehidupn ini, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia pernah menggembala kambing.”

Para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ya, aku juga pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.”
(HR. Bukhari no. 2262)

Bukan sekadar pekerjaan fisik, menggembala adalah madrasah kesabaran dan observasi. Ia belajar mengenal karakter hewan gembalaan yang berbeda-beda, memperhatikan arah angin, membaca gejala cuaca, dan tentu saja memastikan setiap hewan gembalaan kembali dalam keadaan selamat. Satu kelalaian bisa berakibat hilangnya hewan, bahkan kemarahan pemiliknya.

Baca Juga  Uji Publik, KPU Kota Tampung Usulan Pergeseran Kursi DPRD Pangkalpinang

Pembelajaran dari Padang Gembalaan

Menerima upah dari hasil kerja sejak muda membuat Nabi SAW mengenal nilai keringat. Ini adalah bibit entrepreneurship. Nilai kemandirian, tanggung jawab, dan integritas. Ia tidak bergantung pada kekayaan keluarga, tapi memulai dari bawah, dari pekerjaan yang tampak remeh tapi penuh makna.

Lebih dari itu, menggembala menghadirkan keheningan yang produktif. Dalam kesunyian padang gembalaan, Nabi SAW belajar menata pikirannya. Ia menatap bintang-bintang, menyimak desir angin, menyerap isyarat dari semesta. Ia berlatih mindfulness, jauh sebelum istilah itu dikenal luas. Atau bahkan sebelum hari ini kita dikenalkan dengan kosa kata pembelajaran mendalam.