Anje-Anje sang Pemangsa

Oleh: Yoel Chaidir

“Mak Mak…,” teriak Wita memanggil ibunya yang masih sibuk membereskan rumah pagi itu.

Wita membalikkan badan berlari kembali ke rumah dengan tergesa gesa.

Ia baru saja melihat bangkai bangkai ayam yang terkapar di jalan setapak.

Ceceran darah segar yang telah membeku.

“Astaghfirullah…”

Ibu Wita hanya bisa berucap setelah mendengar apa yang dilihat anaknya pagi itu.

Wita yang semula melangkahkan kakinya hendak bersekolah melewati belakang rumah, dikagetkan oleh pandangan yang sama seperti beberapa tahun silam.

***

Sudah 3 malam warga digempar kan dengan kejadian yang sama.

Beberapa ekor ayam dan unggas milik warga mati mengenaskan dengan perut dan organ tubuh bagian dalam serta kepala unggas hilang.

Baca Juga  Engkau Pelitaku

Hanya menyisakan bangkai dan ceceran darah segar di seputaran kandang.