Kita sebut saja itu “legenda modern”. Legenda modern dapat digunakan untuk memperkaya budaya lokal, menarik wisata, atau memberi nilai simbolik pada suatu tempat, asalkan tidak menyinggung keyakinan atau sejarah masyarakat tertentu. Di samping itu, perlu kejujuran mengakui kisah itu hanya rekaan penulis.

Konsepnya memang ada yang disebut modern legend, contemporary legend, atau bahkan invented tradition—yaitu kisah yang dibuat pada zaman modern, tetapi diberi gaya atau struktur legenda kuno, biasanya terpicu oleh penemuan, fenomena alam, atau situs baru yang ditemukan publik.

Contohnya, penemuan Cave of Crystal, gua kristal raksasa di Naica (Meksiko) yang ditemukan tahun 2000-an oleh penambang. Warga sekitar mulai membuat kisah fiksi bahwa kristal-kristal itu adalah tulang naga purba atau senjata para dewa, padahal itu kreasi abad ke-21, bukan tradisi lama.

Baca Juga  Pentingnya Integrasi Pendekatan Pendidikan Ekoteologi dalam Proses Pembelajaran

Cerita rekaan Ko Tony menghubungkan identitas lokal, yaitu akulturasi antara masyarakat Tionghoa dan Melayu di Pulau Bangka dalam Legenda Batu Belimbing. Itu termasuk relevansi terbentuknya legenda modern. Ia menuliskannya karena pertama, ia seorang penulis dan kedua ia bekerja di Dinas Pariwisata yang memerlukan produk berbasis ‘story telling’ untuk menarik wisatawan.

Di samping Ko Tony, ada banyak penulis buku anak di Bangka Belitung yang sedang merintis kariernya menulis lebih baik dan lebih baik lagi. Sosok Pak Muhammad Irsan, sebagai Kepala Kantor Bahasa Bangka Belitung, juga patut dijempoli dengan komitmennya terhadap kemajuan literasi Babel—negerinya Laskar Pelangi.

Di antara peserta ada mahasiswa dari Universitas Bangka Belitung. Mereka mahasiswa Prodi Sastra Inggris, sayangnya belum ada Prodi Sastra Indonesia di Babel. Saya kira model usaha penulisan yang dlakukan Ko Tony dapat menjadi bahan kajian sastra yang menarik, terutama sastra anak.

Baca Juga  Anggota DPRD Babel Bangga dengan Buku Karya Penulis Bangka Selatan

Selain model penciptaan legenda baru oleh Ko Tony, dekonstruksi juga dapat dilakukan pada cerita rakyat masa lalu demi suatu misi, misalnya menghilangkan unsur tabu dalam cerita rakyat. Namun, di sisi lain ada juga yang kurang setuju pakem cerita rakyat itu dipermak.
Apa yang sangat jelas bahwa cerita rakyat di Indonesia sebagian besar bukanlah cerita untuk anak. Cerita orang dewasa itu menyebar lewat tradisi lisan dan beberapanya diadaptasi menjadi cerita anak.

Orang dahulu tidak berpikir bahwa cerita itu disiapkan khusus untuk anak-anak, apalagi berpikir untuk dilombakan. Hehehe. Salam insaf!