Membaca 80 Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: Rapi, S.Pd – Guru Penulis dari Habang

Angin pagi di bulan Agustus membawa aroma yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Berbisik-bisik dari masa lalu, menyusup di sela alunan suara bendera yang berkibar. Ada harapan di tiap tiang bambu yang dulu memikul perjuangan kemerdekaan. Ada semangat para pejuang, meski raganya telah lama tiada, jejaknya masih terasa di tanah yang kita pijaki kini.

Indonesia, hari ini engkau telah berusi 80 tahun. Usia yang tak lagi muda, dalam perjalanan manusia ibaratkan kakek yang bijak, kenyang dengan pahit manisnya pengalaman. Namun, dalam perjalanan sebuah bangsa, engkau masih muda, masih harus banyak belajar, masih harus menjaga diri dari goyahnya zaman.

Baca Juga  Analisis Persepsi Masyarakat Tionghoa di Belinyu terhadap Keberadaan STiAKIN

Sejak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, delapan dekade sudah bangsa ini berdiri. Dalam sejarahnya, ia adalah perjalanan yang penuh cerita, air mata, harapan dan cita-cita, kemenangan dan kegagalan. Penulis tidak hanya ingin mengingatkan berbagai peristiwa yang telah dilalui bangsa ini, tetapi juga membacanya seperti buku besar yang terus terbuka, di dalamnya terus kita isi bersama.

Saat kita membuka halaman pertama, kita akan menemukan kisah pada pendiri bangsa yang tak kenal lelah. Mereka menulis dengan tinta perjuangan dan pengorbanan yang diwarnai keberanian melawan para penjajah dengan persenjataan yang lengkap.

Sedangkan mereka, hanya berbekal bambu runcing dengan tekad dan semangat tanpa henti. Di halaman-halaman awal ini penuh dengan semangat. Perbedaan suku, bahasa, dan agama bukanlah penghalang, malah menjadi kekuatan semangat persatuan.

Baca Juga  Berpuisi di Alun-alun Toboali, Era Baru Dunia Sastra Bangka Selatan

Sebagai seorang guru, bagian ini layak untuk diceritakan kepada para murid. Bukan hanya sekadar untuk dikenang, tetapi juga dapat dimaknai dalam kehidup itu sendiri. Kemerdekaan bukah lah sebuah hadiah, tetapi hasil perjuangan panjang yang sangat mahal harganya.