Simbol Bendera One Piece dan Arah Gerak Perjuangan Hakiki
Akibatnya, kesenjangan sosial semakin lebar dan kebijakan yang diambil kerap berpihak pada korporasi, bukan pada kepentingan publik. Rakyat dipaksa menaggung beban hidup yang kian berat, mulai dari harga kebutuhan pokok yang melambung, lapangan kerja yang minim hingga akses pendidikan dan kesehatan yang sulit dijangkau. Di sisi lain para pemilik modal menikmati kemudahan izin insentif, fiskal, dan perlindungan hukum.
Maka, selama sistem kapitalisme masih menjadi pondasi dalam penyusunan kebijakan, kedzoliman struktural akan terus berlangsung. Sejatinya yang dibutuhkan bukan hanya sekadar pergantian pelaku pemerintahan, melainkan perubahan sistem yang benar-benar berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, yakni sistem Islam.
Sebab persoalan yang menimpa negeri ini bukan sekadar kesalahan individu rezim tertentu, atau kebijakan teknis. Tetapi karena diterapkannya sistem buatan manusia, yakni kapitalime sekuler yang tidak bersumber dari wahyu Allah swt.
Sistem Islam: Arah Gerak Perjuangan Hakiki
Islam bukan hanya agama spiritual, melainkan sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan yang mencakup ekonomi, politik, hukum, pendidikan, hingga hubungan internasional. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Negara dalam Islam bukan alat penindas, tetapi pelayan umat. Kekayaan dikelola untuk kemaslahatan rakyat, hukum ditegakkan dengan adil, dan penguasa bertanggung jawab langsung kepada Allah. Umat Islam ditetapkan sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang bertugas menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (QS. Ali Imran: 110).
Karena itu, arah gerak perjuangan hakiki bukan berhenti pada simbol-simbol perlawanan ala One Piece saja, melainkan menuju penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah. Inilah sistem yang akan membebaskan manusia dari penindasan kapitalisme dan mengantarkan umat Islam kembali memimpin peradaban dunia.
Simbol memang memiliki kekuatan. Ia bisa menggugah emosi, membangkitkan semangat, bahkan menyatukan perasaan kolektif. Tetapi, tanpa arah perjuangan yang jelas, simbol hanya menjadi ekspresi pelampiasan sesaat, hingga lambat laun meredup ditelan masa.
Umat Islam sendiri memiliki simbol sejati yang dapat menyatukan arah perjuangan, yakni Ar-Rayah dan Al-Liwa’, panji Rasulullah yang menyatukan umat dalam perjuangan hakiki. Perjuangan ini harus dilakukan melalui dakwah, pembinaan, dan aktivitas politik yang meneladani dakwah Rasulullah Saw.
Dibutuhkan kesadaran penuh atas umat sehingga dapat bangkit menuju perubahan hakiki. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam, menuliskan bahwa “Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya atas kehidupan, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganyaa dengan sesusatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudah kehidupan dunia.” (An-Nabhani, 1953: 7)
Manusia ketika berbuat dituntun atas pemaknaa-pemaknaan dalam hidupnya. Hal ini mengajarkan sejauh mana manusia memahami makna dirinya dan mendekati pemaknaan yang hakiki dan dititik itulah manusia akan berhasil menilai sesuatu lebih tepat. Maka sudah saatnya menggantikan sistem gagal yang berlangsung selama puluhan tahun ini dengan sistem Islam.
Penutup
Fenomena One Piece di Indonesia menunjukkan betapa kuatnya simbol dalam mengekspresikan keresahan sosial. Namun, umat Islam harus cerdas membaca tanda zaman. Simbol bukanlah tujuan, ia hanyalah refleksi. Tujuan sejati adalah perubahan sistemik menuju tegaknya syariat Islam.
Maka, dari One Piece kita belajar bahwa rakyat merindukan kebebasan dan keadilan. Tetapi arah gerak perjuangan hakiki bukanlah menuju kebebasan absolut ala bajak laut, melainkan menuju kebebasan sejati, yakni penghambaan hanya kepada Allah, dalam naungan Khilafah Islamiyah.
Hanya dengan itu, umat ini akan terbebas dari penindasan, dan kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Wawlahu’alam bishawab
