Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 13)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW tidak tiba-tiba menjadi pemimpin agung yang adil dan visioner. Karakter dan komitmennya pada nilai-nilai keadilan telah terpupuk sejak muda.

Salah satu peristiwa penting yang menunjukkan hal ini adalah keterlibatan beliau dalam peristiwa Hilf al-Fudhul. Secara maknawi, peristiwa tersebut adalah perjanjian antara orang – orang yang memiliki keutamaan. Sebuah peristiwa aliansi pemuda dan tokoh Quraisy yang bersepakat untuk menegakkan keadilan bagi siapa pun yang dizalimi, tak peduli suku dan statusnya.

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 595 M, ketika Rasulullah SAW berusia sekitar 20 tahun. Saat itu, Makkah sedang berada dalam masa tenang pasca Perang Fijar, namun ketimpangan sosial dan kekuasaan masih begitu tajam.

Baca Juga  Pembelajaran dari Perjalanan Misi Dagang

Seorang pedagang dari Yaman datang ke Makkah untuk berdagang. Namun, setelah ia menjual barang dagangannya kepada seorang pembesar Quraisy bernama Al-‘Ash bin Wa’il AS Sahmi, pembayaran yang dijanjikan tak kunjung diberikan.

Dalam kondisi jauh dari kampung halaman dan tanpa kekuasaan untuk menuntut hak, Pedagang dari Yaman tersebut naik ke bukit dan berseru memanggil keadilan.

Ia menyenandungkan bait-bait puisi yang menggugah hati. Seruan ini menggugah nurani beberapa tokoh Quraisy yang masih menyimpan nilai kemanusiaan dan kehormatan, di antaranya; Abdullah bin Jud’an yang kemudian menjadi tuan rumah pertemuan, Zubair bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi SAW), Abu Thalib dan para tokoh lainnya dari Bani Hasyim, Bani Zuhrah, Bani Asad dan Bani Tamim

Baca Juga  Danau Bukit Pading, antara Legenda dan Fakta

Muhammad muda hadir dalam pertemuan itu dan ikut serta dalam sumpah bersejarah yang dikenal sebagai Hilf al-Fudhul. Mereka berjanji untuk berdiri di pihak kebenaran dan siap membantu siapa pun yang dizalimi, sampai haknya dikembalikan, baik ia penduduk Makkah maupun orang asing.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Ishaq dan disebutkan pula oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah menyaksikan perjanjian di rumah Abdullah bin Jud’an yang lebih aku sukai daripada unta merah. Seandainya aku diajak kepada perjanjian semacam itu di masa Islam, pasti aku akan penuhi.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi)