Membentuk Diri dalam Pusaran Digital (Bagian III)
Oleh: Hendrawan, S.T., M.M. — Alumnus Universitas Pertiba-Pangkalpinang
Kecerdasan Buatan (AI) dan Krisis Otonomi Kognitif
Ketergantungan AI dan Fenomena Cognitive Offloading
Penggunaan kecerdasan buatan secara berlebihan telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kemampuan kognitif manusia. Fenomena cognitive offloading adalah praktik melimpahkan proses berpikir dan tugas kognitif kepada teknologi. Meskipun hal ini meningkatkan efisiensi, dalam jangka panjang dapat mengurangi ketajaman mental individu.
Sebuah studi dari University of Texas (2023) menemukan bahwa penggunaan AI yang berlebihan mengaktifkan pola pikir pasif dimana otak hanya menerima hasil tanpa melakukan analisis mendalam. Selain itu, Ovadia et al. (2022) menegaskan bahwa kebiasaan ini dapat menurunkan kapasitas memori dan ketekunan intelektual seseorang.
Pada awalnya, AI dipersepsikan sebagai alat bantu yang meningkatkan intelegensi manusia. Namun, dalam praktiknya, AI seringkali menjadi tongkat penyangga yang menumpulkan kemampuan mandiri. Ketergantungan ini tidak hanya menurunkan kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas, tetapi juga dapat menyebabkan disorientasi identitas.
Individu, terutama kaum muda, terbiasa membuat keputusan berdasarkan saran AI, bukan prinsip pribadi atau nilai-nilai internal. Kondisi ini menciptakan krisis otonomi kognitif, dimana diri eksternal—mesin—mulai menggantikan diri internal yang reflektif.
Miskin Literasi Ditengah Banjir Informasi yang Didukung AI
Hubungan antara AI dan literasi adalah sebuah dilema. Di satu sisi, AI dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan literasi digital dan mempermudah pencarian informasi yang cepat dan efisien.
Namun, disisi lain, kemudahan ini menimbulkan kesenjangan digital literasi yang kompleks. Kecepatan dan kemudahan akses informasi melalui AI tidak secara otomatis meningkatkan kemampuan individu untuk memverifikasi, menganalisis, dan membedakan informasi yang valid dari disinformasi.
Kombinasi antara cognitive offloading dan rendahnya literasi menciptakan ancaman serius terhadap integritas epistemologis individu dan masyarakat. Ketika individu merasa rentan terhadap konten buatan AI, namun pada saat yang sama kurang yakin bisa membedakannya, mereka menjadi sasaran empuk untuk manipulasi opini publik dan disinformasi.
Hal ini tidak hanya menghambat pengembangan diri sebagai entitas yang rasional, tetapi juga mengancam kesehatan demokrasi dan kohesi sosial yang dibangun diatas informasi bersama yang terverifikasi.
