Agroforestry Kelekak: Penyelamat Iklim Ramah Lingkungan
Oleh: Muhammad Tamimi — Mahasiswa Program S2 Ilmu Pertanian UBB
Keberlanjutan belakangan ini menjadi kata kunci dalam program pertanian, baik di bidang pendidikan, penyuluhan, penelitian, maupun kebijakan pemerintah.
Untuk menunjang komunikasi yang efektif di antara para pengajar, peneliti, dan praktisi pertanian, diperlukan kesepakatan mengenai definisi pertanian berkelanjutan.
Definisi tersebut harus cukup luas untuk mencakup beragam situasi pertanian, namun juga cukup spesifik agar dapat digunakan sebagai kriteria dalam menilai keberlanjutan berbagai sistem alternative, pada kesempatan ini yang dibahas adalah alternative kelekak.
Agar bermanfaat sekaligus fleksibel, definisi ini sebaiknya “berorientasi pada tujuan” dan bukan sekadar “berorientasi pada sarana”.
Weil, R. R. (1990), dalam tulisannya tentang defining and using the concept of sustainable agriculture. Journal of Agronomic Education, 19(2), 126-130 yang menawarkan salah satu definisi pertanian berkelanjutan, meninjau beberapa definisi lain yang telah diajukan, serta mengklarifikasi sejumlah konsep, seperti “input rendah” yang sering dikaitkan dengan isu keberlanjutan.
Kelekak sebagai kearifan lokal Bangka kiranya dapat disandingkan dengan konsep tersebut.
Istilah kelekak bagi orang Bangka sudah tidak asing lantaran telah menjadi peninggalan ajaran orang tua kepada anaknya manakala usai berkebun atau bertani komoditas pangan atau hortikultura.
Di Bangka Belitung sendiri khususnya di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka tempat kelahiran masih tersedia yang namanya kelekak tersebut.
Kearifan lokal itu dianggap sebagai warisan untuk dijadikan tempat tumbuhnya tanaman buah-buahan dan kayu, seperti durian, duku, rambutan, manggis cempedak dan sejenisnya.
Orang melayu Bangka menyebut nama kelekak ini dengan istilah “kelak untuk ikak”.
Sederhananya, istilah kelekak sebagai bentuk kearifan lokal dari ajaran orang tua yang diwariskan kepada anak cucu untuk senantiasa memiliki budaya menanam tanaman buah-buahan.
Secara umum, kelekak memiliki nilai filosofis dari peninggalan orang tua untuk lintas generasi agar selalu menjaga sumber daya alam dan lingkungan (DLHK Babel).
Keunggualan Kelekak sebagai Jenis Budidaya Low Input
Secara umum, kelekak memiliki manfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi. Secara ekologi, kelekak dimaknai sebagai penanaman pohon buah-buahan yang tumbuh subur didalamnya. Kehadiran yang disebut hutan desa itu berfungsi menyiapkan cadangan air sebagai persiapan menghadapi kekeringan pada musim kemarau.
Sementara itu, tanaman berkayu yang tumbuh di kelekak dapat menyerap air agar tidak kebanjiran pada musim hujan.
Fungsi ekologi lainnya, suburnya pepohonan di kelekak pula sebagai tempat tinggal atau rumah bagi makhluk hidup flora dan fauna, seperti burung, ular, kera, dan hewan sejenisnya.
Kehadiran kelekak ini tentu dapat menjaga ekosistem flora dan fauna lantaran terus berkembang biak, sehingga terhindar dari kepunahan.
Fungsi ekologi berikutnya, kehadiran kelekak sebagai tempat ruang hijau bagi masyarakat untuk menjaga stabilitas iklim ditengah krisisnya hutan saat ini, sehingga kelekak dapat menyumbang ketersediaan oksigen bagi kebutuhan manusia yang hidup di sekitarnya.
Sedangkan manfaat kelekak secara sosial, tentunya kehadiran kelekak dapat memberikan pemerataan dan kesejahteraan sosial lantaran kelekak dapat merajut persaudaraan antar keluarga dan masyarakat.
