“Terima kasih Kek,” jawab Soni.

“Silakan petik tapi jangan dihambur-hamburkan.” sayup terdengar ucapan sang kakek.

Soni lalu mengambil beberapa lembar karung bekas dan segera dibagikan kepada rekan rekannya yang asyik memetik jamur (kulat) huket di sore itu.

Menjelang Maghrib semua karung berjumlah 12 buah terisi penuh dengan kulat huket hasil perburuan mereka.

Namun hanya dua karung saja yang mereka bawa pulang ke basecamp tempat menginap di hutan tersebut.

Sedangkan sepuluh karung sengaja mereka tinggal. Besok mereka akan kembali ke sana untuk mengambil 10 karung tadi.

Keesokan harinya, sore menjelang Magrib, mereka kembali ke titik di mana mereka menemukan kulat huket yang begitu banyak.

Baca Juga  Misteri Sebuah Lukisan

Namung para pengebor timah ini terkejut. Tak satu pun karung terlihat.

Bahkan pondok kebun sang kakek pun tak nampak pada posisi di mana mereka lihat kemaren.

Yang ada hanya hutan hutan yang ditumbuhi pohon pelawan berdiri tegak.

Soni saling bertatapan dengan rekannya.

Suasana begitu sunyi. Tak terasa bulu kuduk berdiri.

Rasa takut mulai menghantui mereka.

“Kita tidak usah lama-lama di sini. Mari kita pulang ke basecamp,” kata Soni bergegas meninggalkan tempat itu.

“Mungkin hanya dua karung kemarin rezeki yang diberikan kepada kita,” katanya di perjalanan pulang.

Hal seperti ini memang sering mereka alami di beberapa tempat.

Saat mereka baru pindah dari hutan ke hutan yang lain untuk mengebor titik timah.

Baca Juga  Pelalu Barang Alus

Walahualam bissawaf.

Rezeki manusia sudah diatur yang maha kuasa.

Jika sudah menjadi hak kita, maka tak satu pun yang bisa menghalaunya dan begitu pula sebalik nya.

Wassalam, Yoelch