Oleh: Fhyiona Vlorensya 

“Kalau terus begini, lebih baik Hikuk Helawang kita hentikan saja selamanya!”

Suara bentakan Kanna itu memecah keheningan di ruang pertemuan balai Desa Nyelanding. Suasana yang sejak tadi terasa panas karena perdebatan, seketika berubah menjadi membeku.

Di ujung meja panjang, Kanna hanya bisa menatap amarah ke arah Pak Samsul, tokoh masyarakat yang wajahnya memerah menahan emosi.

Di sebelahnya, Pak Sukandi menghela napas panjang, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu tua.

Di sisi lain, Ustadz Zayadi duduk tenang, meski sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Mereka yang seharusnya menjadi tiang penyangga warisan, kini terperangkap dalam jurang perbedaan pendapat yang menganga lebar.

“Bapak bicara sembarangan!” sahut Pak Samsul, suaranya rendah namun bergetar menahan marah.

“Lebih baik dihentikan? Apakah Bapak lupa bagaimana orang-orang terdahulu berjuang agar tradisi ini tetap ada? Saat wabah datang melanda desa ini, saat anak-anak pada waktu itu jatuh sakit tak berdaya, inilah yang menjadi cara kita.”

Kanna menatap lurus ke arah mereka, suaranya tegas.

“Ketika itu, penyakit hilang, kedamaian datang. Dan sekarang, Bapak ingin mengakhirinya hanya karena masalah sepele? Apa gunanya warisan kita jika ditinggalkan begitu saja?”

“Masalah sepele?” Pak Sukandi berdiri. “Kau sebut itu sepele? Lihatlah di luar sana! Anak-anak lebih asyik dengan gadget mereka. Mereka bilang ini membebani. Kalau dipaksakan, tradisi ini bukan lagi syukuran, tapi beban yang membuat warga sengsara. Kau mau tetap ada, tapi warga yang mengeluh dan menjauh? Bagaimana?”

Baca Juga  Gaziela

Berminggu-minggu silang pendapat menghantui mereka. Warisan turun temurun yang mereka banggakan, kini berada di ambang jurang.

Bagi sebagian orang, tradisi ini bagai ikatan yang tak boleh longgar di mana setiap rumah membawa nampan berisi makanan sebagai wujud kebersamaan.

Tapi bagi banyak keluarga lainnya, terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi, tradisi ini menjadi beban berat yang tak terbayangkan.

Kanna merasakan sendiri betapa sulitnya keadaan. Keluarganya juga merasakan kesulitan. Setiap kali persiapan akan dilaksanakan, ayahnya harus berhutang hanya untuk memenuhi kebutuhan yang dipersyaratkan.

Ibu harus menjual hasil kebunnya dengan harga lebih murah, dan adiknya sering kali tidak bisa membeli buku tulis yang dia butuhkan.

Suatu hari, ketika Kanna sedang mencoba mengajak sepupunya, Puni, membantu persiapan, ia hanya duduk santai, jari-jarinya bergerak lincah menyusuri layar ponsel.

“Buat apa repot-repot, Na? Itu kan cuma tradisi usang. Sekarang zamannya teknologi,” kata Puni tanpa menoleh, suaranya terdengar meremehkan.

“Kau lihat saja, semua orang sekarang lebih percaya apa yang ada di gadget daripada hal-hal kuno yang tidak jelas gunanya. Keluargamu juga pasti susah memikirkannya, kan? Lebih baik kita tinggalkan saja, fokus cari uang daripada memaksakan hal yang tidak berguna,” sambungnya.

Ucapan itu terngiang terus di kepala Kanna.

Benar apa yang dikatakan Puni. Banyak sekali orang yang seperti keluarganya, kesulitan menyiapkan segala yang dibutuhkan. Sementara di sisi lain, tradisi ini dianggap sebagai identitas desa yang tidak boleh hilang.

Jika dibiarkan terus begini, bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, tradisi ini hanya akan menjadi tulisan di buku sejarah. Desa mereka akan kehilangan ciri khasnya, kehilangan jiwanya sendiri.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 7)

Kanna bimbang. Ia memahami keluhan warga, terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi, tapi hatinya menjerit membayangkan jika nanti desa ini akan sunyi. Tak ada lagi aroma masakan adat dan kebersamaan yang selalu menjadi kebanggaan mereka.

Setelah sekian waktu berlalu, Balai Desa Nyelanding kembali menggelar musyawarah, mencoba untuk kembali merajut simpul-simpul yang sempat renggang.

“Masalahnya bukan pada tradisinya,” ujar Kanna pelan, memecah ketegangan di ruangan itu.

“Tapi pada cara kita menjalankannya. Kita masih berpegang pada cara zaman dulu, sementara dunia berubah. Kita ingin menjaga identitas budaya, tapi kita juga harus memikirkan kesanggupan warga.”

Ustadz Zayadi yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut namun tegas, menusuk ke dalam hati mereka semua.

“Tradisi ini ibarat air sungai. Kalau air itu diam, ia akan keruh dan berbau. Tapi kalau ia bergerak, mengalir mengikuti lekuk bumi hingga menuju laut, ia akan memberi kehidupan. Tradisi itu hidup, Kanna. Tradisi yang bergerak, bukan yang diam membeku.”

Kalimat tersebut menggantung di udara. Tradisi yang bergerak. Pertemuan hari itu bubar, lagi-lagi tanpa kesepakatan bulat, namun benih pemikiran itu sudah tertanam.

Kanna berjalan pulang melewati jalanan desa yang berpasir putih, angin desa membawa aroma sejuk yang khas. Di kejauhan, di bawah pohon besar, terdengar suara riuh rendah anak-anak bermain sambil melantunkan syair permainan yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga  Mogok, Tukang Bengkel Panggilan Solusinya

“Tek.. Tekwan… Bekatek.. Bekawan.. Hape bekatek, dibejik Tuhan!”

Mereka tertawa, berlari mengejar satu sama lain, menciptakan kebahagiaan sederhana yang tetap ada meski zaman berubah. Kanna berhenti sejenak, terpesona. Permainan itu sederhana, tapi tetap dimainkan karena menyenangkan, dan mengikat persahabatan.

Saat itulah, sebuah ide besar menyambar pikirannya. Sebuah rencana yang gila, berisiko, tapi mungkin satu-satunya jalan penyelamatan.

Ia sadar sepenuhnya, bahwa warisan ini tidak boleh dihilangkan. Namun, sedikit harus dirombak, diubah dari hal-hal yang kini dianggap tidak masuk akal, dan disesuaikan agar lebih rasional, namun tetap menyimpan makna yang mendalam dan bermanfaat bagi semua.

Malam itu, Kanna menyusun rencana. Ia tidak akan mengubah makna intinya yaitu rasa syukur, kebersamaan, dan persatuan.

Itu mutlak harus tetap ada. Ia tidak akan membiarkannya menjadi beban yang membebani pundi-pundi warga, tapi mengubahnya menjadi sesuatu yang justru mendatangkan berkah.

***

Sebulan menjelang tradisi sakral itu, desa kembali menjadi tempat berhimpunnya para pemangku adat, masyarakat, dan pokdarwis Desa Nyelanding yakni Kanna. Musyarawah terakhir ini akan ditentukan nasib sebuah warisan, kembali dilangsungkan atau diam dalam kenangan.

“Bapak-bapak, saya punya usul,” kata Kanna membuka pembicaraan, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.

“Selama ini, setiap rumah wajib menyajikan nampan besar berisi makanan lengkap. Biayanya besar, tenaganya banyak, dan hasilnya seringkali berlebihan hingga terbuang percuma. Itulah yang membuat banyak warga enggan, apalagi yang memiliki keterbatasan seperti keluarga saya.”