Pak Samsul mengernyitkan dahi. “Lalu apa maksudmu? Kau mau kurangi porsinya? Itu sama saja merendahkan penghormatan kita kepada leluhur.”

“Bukan begitu, Pak,” jawab Kanna cepat.

“Saya usulkan, bagi warga yang mampu, sekiranya dapat membawa hidangan adat yang lebih ke balai desa. Jadi bagi yang tidak mampu, para tamunya dapat dijamu bersama, tak ada lagi beban yang harus dipikul sendiri. Sekalipun tradisi ini kita buka untuk umum atau perhelatan budaya, segala kesulitan akan teratasi dengan semangat ini.”

Ruangan itu seketika riuh rendah. Pak Sukandi langsung memotong dengan nada tinggi.

“Gila! Kau mau jadikan warga yang tak mampu jadi tontonan orang luar?

“Itu akan merusak nama baik mereka!” Sergah Pak Samsul, wajahnya kembali memerah.

Perdebatan meletus kembali, kali ini jauh lebih panas dari sebelumnya. Pendapat Kanna dianggap penghianatan terhadap adat. Ucapan-ucapan tajam melayang ke arahnya.

Ia dipandang sebagai anak muda yang sudah teracuni dunia luar, yang ingin mengubah kesucian desa demi tren semata.

“Kalau begini caranya, lebih baik kita akhiri saja seperti kataku dulu!” bentak Pak Sukandi dengan keras, menabrakkan telapak tangannya ke meja. “Daripada hal ini tercemar!”

Hatinya terasa teriris. Namun di tengah keributan itu, ia menangkap sorot mata Ustadz Zayadi. Ia diam, tapi matanya memintanya untuk terus berbicara. Kanna menarik napas panjang, memberanikan diri berdiri tegak menghadapi mereka semua.

Baca Juga  Bertemu untuk Berpisah

“Bapak-bapak sekalian!” suaranya menggelegar, memotong kegaduhan di ruangan itu.

“Mohon maaf, Bapak bilang ini sakral, ini suci. Tapi apa gunanya kesucian itu kalau hanya ada di ingatan kita, sementara anak-anak muda di luar sana tidak peduli dan tidak mau tahu? Mereka menganggap ini cuma mitos, cuma cerita masa lalu yang tidak relevan.”

Mereka mendengarkan dengan seksama, meski masih ada yang memandang dengan ragu.

“Mereka lebih percaya apa yang ada di layar gadget mereka daripada nilai yang ada di tanah kelahiran mereka. Apa gunanya warisan ini kalau sepuluh tahun lagi tidak ada yang mau mengurusnya? Lalu Desa Nyelanding ini akan sama saja dengan desa lain, hilang ciri khasnya, hilang jejak leluhurnya, hilang identitasnya!”

Kanna melangkah mendekat ke meja, menatap satu per satu wajah mereka.

“Kita sebut ini ‘Satu Pintu’. Artinya setiap orang punya peran, setiap orang berharga. Kalau kita buka pintu ini lebar-lebar, mengundang tetangga desa, kampung lain, dan keluarga yang merantau pulang, bukankah itu makna sesungguhnya? Kita mengajarkan kepada dunia dan anak cucu kita bahwa di sini, kita bersatu, kita bersyukur.”

Ia berhenti sejenak, menatap mereka dengan penuh harapan.

“Dan satu hal lagi, Pak. Hal-hal yang dulu dianggap sakral dan penuh misteri, harus kita ubah menjadi doa dan syukur yang berlandaskan agama. Agar anak muda melihat ini sebagai sesuatu yang indah, benar, dan mendekatkan diri pada Tuhan, bukan hal yang menakutkan atau tidak masuk akal. Kita tidak menghapus adat, tapi kita menyucikannya agar tetap hidup dan dicintai.”

Baca Juga  Ibu, Cintamu Tak Terhitung

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini bukan keheningan yang dingin, tapi keheningan yang dipenuhi pertimbangan mendalam.

Pak Samsul menunduk, matanya menatap ukiran meja tua di hadapannya, seolah sedang berbicara dengan bayangan leluhur yang ada di sana.

Pak Sukandi terdiam, raut wajahnya yang keras perlahan melunak.

Ustadz Zayadi akhirnya berbicara, memecah kebisuan.

“Kanna benar. Maknanya tidak berubah, pintunya kita lebarkan agar sampai ke lebih banyak hati.”

Hari itu, setelah perdebatan panjang yang menguras emosi dan air mata, akhirnya dicapai sebuah kesepakatan bersejarah.

Mereka sepakat tradisi ini tetap dilaksanakan namun tetap memegang teguh nilai warisan.

***

dan hari yang ditunggu pun tiba, 1 Muharram.

Hari itu datang dengan cahaya matahari yang cerah menyinari Desa Nyelanding. Perubahan yang terjadi sungguh luar biasa. Jalanan desa yang berpasir putih kini bersih dan dihiasi hiasan anyaman daun kelapa hasil karya ibu-ibu.

Di sepanjang jalan, berjejer lapak-lapak sederhana namun penuh warna, berisi aneka kue tradisional, hasil laut khas, hingga kerajinan tangan yang dibuat dengan penuh ketelatenan. Itu adalah tudung saji yang kerap disebut ‘Dulang‘ oleh warga setempat.

Warga bergerak riang, saling menyapa dan membantu, tak ada lagi raut wajah berat atau keluhan yang terdengar. Semangat kebersamaan yang dulu mulai pudar, kini berkobar kembali lebih hangat dari sebelumnya.

Baca Juga  Bangka Selatanku Tercinta

Bahkan Puni dan teman-temannya, pemuda yang dulu lebih asyik dengan gadget, kini terlihat sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka bukan untuk bermain, tapi untuk mengunggah keindahan desa dan tradisi mereka ke media sosial, dengan rasa bangga.

Mereka kini sadar, inilah keunikan mereka yang tidak dimiliki orang lain.

Di balai desa, prosesi inti berlangsung sakral namun penuh sukacita.

Nampan-nampan berisi ayam panggang dan nasi ketan tersusun rapi melingkar, menjadi pusat perhatian dan simbol rasa syukur. Doa dipanjatkan dengan khusyuk, mengingatkan mereka semua akan makna sejati acara itu.

Di hari yang suci itu, suasana desa benar-benar berubah menjadi pesta persaudaraan yang agung. Sejak pagi, jalanan desa sudah dipenuhi orang-orang yang berdatangan.

Bukan hanya warga desa, tapi para tetangga dari kampung-kampung sekitar pun datang berbondong-bondong bertamu.

Di sudut lapangan, Kanna melihat Pak Samsul sedang menjelaskan sejarah tradisi ini kepada sekelompok pemuda yang antusias mendengarkan, wajahnya bersinar bangga.

dari kejauhan Ustadz Zayadi menatap mereka dengan tenang, tersenyum puas.

Akhirnya kini kegelisahanku telah reda, Hikuk Helawang terus hidup di bumi Nyelanding. Semoga Allah SWT menurunkan Rahmat dan keberkahan-Nya.

TAMAT